Pernah nggak, lagi banyak pikiran tiba-tiba dada panas, tenggorokan seperti terbakar, atau perut perih? Banyak orang langsung mengira itu karena telat makan atau salah konsumsi makanan. Padahal, dalam beberapa kondisi, penyebabnya tidak sesederhana itu. Stres dan anxiety juga bisa ikut berperan dalam memicu naiknya asam lambung.
Penyakit asam lambung terjadi ketika asam dari lambung naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini umum terjadi pada gangguan seperti GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yang biasanya ditandai dengan sensasi panas di dada atau tenggorokan (heartburn) dan rasa asam di mulut. Kondisi ini sering dianggap sepele karena gejalanya mirip dengan gangguan pencernaan biasa.
Sementara itu, maag atau gastritis lebih sering ditandai dengan nyeri di ulu hati, mual, dan rasa tidak nyaman di perut. Sering tidak disadari bahwasanya tubuh tidak hanya merespons apa yang dikonsumsi, tetapi juga apa yang dirasakan. Saat kondisi mental seseorang sedang tidak stabil, tubuh juga dapat memberikan respons melalui gangguan fisik, termasuk pada lambung.
Saat tubuh mengalami stres, otak akan berada dalam kondisi siaga dan melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Kedua hormon ini berperan dalam respons “fight or flight” (EMC Healthcare, 2025). Dalam jangka pendek, respons ini membantu tubuh menghadapi tekanan. Namun, jika terjadi terus-menerus, dampaknya bisa dirasakan secara fisik, termasuk pada sistem pencernaan.
Beberapa hal yang dapat terjadi saat stres antara lain peningkatan hormon stres secara berlebihan, meningkatnya produksi asam lambung, serta munculnya gejala tidak nyaman seperti nyeri ulu hati, kembung, hingga sensasi terbakar di dada. Gejala tersebut sering kali muncul bersamaan dengan kondisi tubuh yang sedang lelah dan pikiran yang tidak tenang. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sensitif dan lebih mudah merasakan ketidaknyamanan pada sistem pencernaan.
Inilah yang membuat gejala asam lambung sering muncul atau terasa lebih berat saat seseorang sedang berada dalam tekanan mental. Selain itu, stres juga mempengaruhi kebiasaan sehari-hari. Tanpa disadari, kondisi mental yang tidak stabil dapat membuat seseorang lebih sulit menjaga pola hidup yang sehat dan teratur. Hal-hal sederhana seperti waktu makan, waktu istirahat, hingga pola tidur sering kali ikut berubah saat seseorang sedang mengalami stres.
Saat pikiran sedang penuh, seseorang cenderung telat makan, begadang, atau memilih makanan yang kurang sehat. Tanpa disadari, kebiasaan ini memperburuk kondisi lambung dan memicu kekambuhan yang berulang (Kambey & Ong, 2025).
Tidak sedikit orang dengan GERD yang sudah berobat berkali-kali, bahkan menjalani pemeriksaan seperti endoskopi, tetapi gejalanya tetap kambuh. Dalam beberapa kasus, penyebabnya bukan hanya pada kondisi fisik lambung, melainkan juga berkaitan dengan kecemasan dan overthinking yang terus berlangsung. Saat seseorang berada dalam tekanan emosional secara terus-menerus, tubuh menjadi lebih sensitif sehingga gejala asam lambung lebih mudah muncul kembali.
Jika sumber masalah berasal dari stres yang tidak terkelola, maka pengobatan medis saja sering kali belum cukup memberikan hasil yang optimal. Di sisi lain, hubungan antara GERD dan kesehatan mental bersifat dua arah. Artinya, kondisi mental dapat memengaruhi munculnya gejala GERD, dan gejala GERD yang terjadi terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Hal ini membuat seseorang lebih mudah merasa cemas, tidak nyaman, bahkan gejala bisa muncul kembali.
Gejala GERD yang mengganggu dapat memicu rasa cemas berlebihan, dan sebaliknya, kecemasan yang terus-menerus dapat memperburuk gejala GERD (Kambey & Ong, 2025). Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan GERD memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Pada remaja dan mahasiswa, kondisi ini menjadi semakin relevan. Tuntutan akademik, lingkungan yang toxic, hingga kekhawatiran tentang masa depan dapat memicu overthinking dan anxiety. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berdampak tidak hanya pada kesehatan mental, tetapi juga pada kesehatan fisik, termasuk lambung. Padatnya aktivitas serta tekanan untuk terus memenuhi ekspektasi sering kali membuat remaja mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.
Karena itu, penting untuk mulai melihat kesehatan secara lebih menyeluruh. Mengatasi asam lambung tidak cukup hanya dengan mengatur pola makan, tetapi juga perlu diimbangi dengan pengelolaan stres yang baik (Ridho et al., 2025). Menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental menjadi langkah penting agar kondisi tubuh tidak semakin memburuk.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain adalah self reward, rutin berolahraga, menjaga pola tidur, healing, serta menghindari makanan pemicu seperti makanan pedas, berlemak, kafein, dan makanan asam, terutama saat kondisi tubuh sedang tidak baik-baik saja. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks.
Selain itu, teknik relaksasi seperti mendengarkan musik yang menenangkan, melakukan peregangan ringan, atau sekadar memberi jeda dari aktivitas yang melelahkan juga dapat membantu mengurangi stres (Ridho et al., 2025).
Referensi:
EMC Healthcare. (2025). GERD kambuh karena banyak pikiran atau stres? https://www.emc.id/id/care-plus/gerd-kambuh-karena-banyak-pikiran-atau-stres
Kambey, D. G. H., & Ong, H. S. (2025). Hubungan antara tingkat stres dan risiko terjadinya gastroesophageal reflux disease pada mahasiswa kedokteran. Medical Scope Journal, 8(1), 225–229. https://doi.org/10.35790/msj.v8i1.62426
Ridho, M. I., Agung, R. A., & Darmayani, A. (2025). Hubungan tingkat stres dan kualitas tidur dengan GERD pada mahasiswa kedokteran Universitas Sebelas Maret. Plexus Medical Journal, 4(2), 50–58. https://doi.org/10.20961/plexus.v4i2.798





