Pernahkah kamu berada di tengah rapat organisasi atau sedang berkumpul dengan teman-teman, lalu seseorang bertanya, “Apa kabar?” atau “Kamu tidak apa-apa?”. Secara otomatis, bibir kita tersenyum dan menjawab, “Aku oke, kok!” padahal di dalam hati, rasanya seperti ada beban berat yang menumpuk, atau mungkin sekedar rasa lelah yang sulit dijelaskan.
Bagi banyak dari kita “sebagai remaja”, terutama yang aktif bergerak di komunitas atau organisasi, ada tekanan tak kasat mata untuk selalu terlihat kuat, kompeten, dan “selesai” dengan urusan pribadi. Kita sering merasa bahwa menunjukkan kerapuhan adalah tanda kelemahan, padahal jujur pada diri sendiri adalah langkah pertama menuju kepemimpinan yang baik.
Mengapa Kita Sering Berbohong pada Diri Sendiri?
Terkadang, kita berkata “aku oke” bukan karena ingin membohongi orang lain, tapi karena kita belum siap menghadapi apa yang sebenarnya kita rasakan. Kita takut jika kita mengakui rasa lelah, kecewa, atau cemas, kita akan kehilangan kendali atau mengecewakan tim yang bergantung pada kita.
Namun, emosi itu ibarat sinyal di dasbor kendaraan. Mengabaikan lampu indikator bensin yang menyala tidak akan membuat tangki bensin terisi kembali, itu justru hanya akan membuat kita mogok di tengah jalan. Begitu juga dengan emosi kita.
The “Safe Space”, Mari Memvalidasi Rasa
Bagaimana jika kita mulai mengubah cara kita memandang emosi? Mari kita sepakati satu hal: Semua perasaanmu valid. Tidak ada emosi yang “salah” atau “buruk”. Marah, sedih, dan cemas adalah respon alami tubuh kita terhadap situasi di sekitar.
Saat kita merasa “tidak oke”, itu bukan berarti kita gagal menjadi aktivis atau pemimpin yang baik. Itu hanya berarti kita adalah manusia. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas dan mengakui, “Ya, hari ini aku merasa kewalahan,” adalah bentuk keberanian tertinggi. Ini adalah ruang aman yang perlu kita bangun terlebih dahulu di dalam pikiran kita sendiri sebelum kita bisa membangunnya untuk orang lain.
The Empowering Tool: “Check-In” 3 Menit
Untuk membantumu lebih jujur pada diri sendiri tanpa merasa dihakimi, kamu bisa mencoba teknik sederhana ini setiap malam atau sebelum memulai kegiatan besar:
- Hentikan Sejenak: Duduk dengan nyaman, tarik napas dalam, dan tutup mata jika memungkinkan.
- Scan Tubuh: Di bagian mana kamu merasa tegang? Apakah di bahu, leher, atau perut? Tubuh seringkali jujur saat pikiran mencoba mengelak.
- Beri Nama: Alih-alih berkata “aku stres”, cobalah lebih spesifik. Apakah itu lelah, kecewa, bingung, atau kesepian? Mengidentifikasi nama emosi secara spesifik terbukti mampu menurunkan intensitas rasa tidak nyaman tersebut.
- Tanya Tanpa Menuntut: Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang paling aku butuhkan saat ini?”. Mungkin jawabannya adalah tidur satu jam lebih awal, segelas air hangat, atau sekadar mematikan notifikasi ponsel selama 30 menit.
In this economy, kita percaya bahwa advokasi dan pemberdayaan dimulai dari dalam. Seorang remaja atau pemimpin yang mampu mengenali dan jujur pada emosinya akan menjadi pemimpin yang lebih empati. Ia tidak hanya memimpin dengan instruksi, tapi juga dengan pemahaman.
Jujur pada diri sendiri bukan berarti kita berhenti berjuang atau menyerah pada keadaan. Sebaliknya, itu adalah strategi agar kita bisa terus berjalan dalam jangka panjang tanpa mengalami burnout. Kita tidak perlu menjadi “oke” setiap saat untuk menjadi hebat.





