“Cari makan di tempat yang gak orang banyak tahu cek!!!”
Sobat mungkin pernah menemukan narasi pembuka seperti itu saat sedang seru-serunya menjelajahi “lini masa” dan menonton video pendek di TikTok maupun Instagram Reels atau mungkin juga Youtube Shorts. Melalui format video pendek yang dikemas menarik, kreator seperti berlomba merekomendasikan tempat makan menarik dibalik tagar #HiddenGems kepada pengikutnya. Trend ini sekilas memberi kesan positif karena menaikkan nama dari tempat-tempat yang sebelumnya sepi menjadi lebih ramai. Tapi, dibalik keramaian di media sosial maupun antrian tempat makan Hidden Gems tersebut, yaitu meningkatnya Food Waste atau limbah makanan yang dihasilkan akibat ekspektasi rasa makanan yang tidak sesuai dan budaya konsumtif.
Video-video yang menampilkan tempat tersembunyi melalui media sosial berformat video seperti TikTok, Reels dan Youtube Short ini sekilas memberi kesan positif. Konten ini dapat menaikkan nama dari tempat-tempat yang sebelumnya sepi menjadi viral dan ramai sehingga berdampak secara ekonomis bagi tempat makan yang masuk dalam konten. Namun, tidak semua tempat yang viral atau trending karena keramaian ini sesuai dengan ekspektasi orang muda. Terkadang, tempat-tempat ini didatangi lebih karena tempatnya yang unik dan menarik untuk diunggah ke media sosial dan menjadi sebuah konten. Tidak salah sih, tapi ada “hidden fact” yang mengintai dari trend seperti ini.
Ketika rasa makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan ekspektasi dari foto atau video, sering kali yang terpuaskan hanyalah rasa penasaran belaka dan bukan selera. Kita hanya datang karena kita tahu bahwa tempat makan itu sedang viral, tapi akhirnya makanan yang dipesan tidak dihabiskan dan malah menyisakan food waste.” Ya, food waste, menjadi salah satu ancaman yang tidak terasa dan sering terlupa, terutama setelah viral nya trend ini.
Food Waste di Indonesia: Masalah Besar yang Terus Diabaikan
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia menjelaskan limbah makanan sebagai makanan sisa yang terbuang dikarenakan adanya kelalaian ketika proses produksi, pengolahan dan distribusi (FAO, 2015). Berdasarkan data yang dikutip dari artikel yang terbit di (Waste4Change, 2022) Indonesia sendiri menyumbang 48 juta ton sampah makanan setiap tahunnya. Jumlah ini berasal dari berbagai sektor, dimana menurut data Barilla Center Food for Food and Nutrition yang terbit di (Goodstatss, 2022) jumlah terbesar disumbang oleh sektor rumah tangga sebesar 63,64 persen, disusul restoran sebesar 23,14 persen dan pedagang 13,22 persen.

Dengan angka yang sebesar itu, sebenarnya menjadi ironi bagi Indonesia yang dikenal sebagai sebuah negara Muslim yang memiliki budaya penghormatan terhadap makanan dan cenderung melihat perilaku membuang makanan sebagai perilaku yang tidak baik. Selain itu, Indonesia juga menempati peringkat 70 dari 117 negara yang mengalami kelaparan, sedangkan jumlah sampah makanan yang dihasilkan oleh penduduk Indonesia mencapai 77 kg per penduduk dalam satu tahun atau 20.938.252 per tahun. (Unair, 2024)
Tentu saja angka di atas bukan jumlah yang kecil ya sobat. Jumlah makanan yang terbuang ini menurut penelitian dari Food Loss and Waste Study Waste4Change yang dikutip dalam artikel yang terbit di (Antara, 2021) disebabkan oleh penanganan produksi yang kurang baik dan dan perilaku konsumsi masyarakat. Jadi, ketika banyak tempat makan yang underrated ini tiba-tiba mengalami lonjakan keuntungan karena tempatnya mendadak ramai karena trend. Tapi efek lain yang didapat adalah muncul masalah food waste karena mereka yang datang tidak semua menghabiskan makanan yang mereka pesan karena tidak mampu menghabiskan karena tidak benar-benar ingin menikmati rasa dari pangan yang disajikan.
Ketika Pangan Tidak Sekadar Kenyang
Tidak semua orang yang pergi ke tempat-tempat yang viral, datang untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan menyantap pangan yang disajikan. Rasa makanan kadang menjadi alasan nomor sekian, alasan lain adalah suasana dan sudut-sudut indah untuk menghiasi feed media sosial mereka. Jean Baudrillard, seorang penulis asal Prancis memperkenalkan sebuah gagasan bahwa manusia modern hidup di tengah simulacra, dikutip dari (Kumparan,2024) simulacra adalah representasi dari simbol dan citra yang menggantikan realitas sebenarnya. Konsep ini melihat bahwa masyarakat modern hari ini tidak lagi mengonsumsi sesuatu bukan lagi dari fungsi aslinya, namun untuk mengonsumsi citra atau simbol yang melekat dari barangnya. Citra yang membuat mereka terlihat berbeda dari teman-teman di jagat maya.
Trend makanan viral dalam tagar #HiddenGems yang dikejar oleh orang-orang terkadang bukanlah tentang rasa dari makanan tersebut, tapi konten yang akan didapatkan lewat foto atau video makanan yang disajikan atau nuansa yang coba dihadirkan oleh tempat yang dikunjungi. Konten tersebut berfungsi untuk merepresentasikan bahwa orang tersebut telah mengunjungi tempat-tempat yang sedang ramai dibicarakan, bukan untuk mengabarkan bahwa makanan atau tempatnya sesuai dengan ekspektasi. Foto dan video yang ditampilkan kemudian digunakan untuk menunjukkan bahwa mereka tidak ketinggalan untuk menjadi bagian dari trend yang sedang ramai dibicarakan. Sedangkan rasa makanan yang mereka abaikan pada awalnya dan ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi malah berakhir menjadi limbah makanan karena tidak dihabiskan.
Sobat Remaja, mencari pengalaman kuliner yang unik dan menarik dan berbeda dari sebelumnya berdasarkan referensi yang dihadirkan oleh media sosial memang bukanlah sesuatu yang salah. Tapi, lebih bijak lagi jika kita memperhatikan lagi kondisi lingkungan sobat. Sampah makanan dapat menjadi beban buat bumi kita dan jika kita terus abai akan semakin memperberat beban bumi kita. Jadi, berikut tips agar kita tetap bijak pangan di tengah trend-trend viral.
5 Tips Menghadapi Trend Viral Agar Bijak Pangan
1.Fokus Terhadap Diri Sendiri
Terlalu fokus pada media sosial kadang membuat kita jadi tidak fokus dengan diri sendiri karena terlalu memantau apa yang di posting. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa tidak semua yang dilalui orang lain bisa kita ikuti.
Apabila terlalu sulit, mungkin sobat bisa melakukan unfollow akun yang sobat rasa dapat mengganggu sobat untuk fokus dengan diri sendiri. Selain itu, sobat juga bisa menekan tombol “tidak tertarik” dan tidak menekan tombol suka agar konten-konten tersebut tidak tampil lagi di linimasa sobat.
2.Kurangi Konsumsi Media Sosial
Fokus dengan diri sendiri sambil terus melihat media sosial bukan hal yang mudah. Algoritma terkadang tetap berusaha merekomendasikan trend viral meski kita sudah abaikan. Apabila kondisi ini sudah membuat kita terganggu, sobat boleh mengurangi konsumsi media sosial.
Sobat bisa memulai dengan menjauhkan gadget dari jangkauan dan melatih diri untuk tidak sering-sering membuka media sosial. Selain itu, sobat juga bisa mencari kesibukan lain untuk mengurangi keinginan konsumsi media sosial seperti membaca buku atau berfokus pada hobi yang lain.
3.Terapkan Bijak Keuangan
Mengikuti trend di media sosial, terutama yang sifatnya konsumtif membutuhkan biaya juga tentunya. Apabila sobat mengikuti semua trend tersebut tanpa fokus pada kebutuhan diri sendiri dan hanya mengikuti trend untuk terlihat tidak ketinggalan, hal ini tentu bisa mengganggu perencanaan finansial sobat.
Dengan menerapkan bijak dalam mengelola keuangan, sobat dapat terhindar dari trend viral di media sosial yang dapat mengganggu perencanaan finansial sobat dan membuat sobat tidak bijak pangan.
4.Membangun Koneksi Yang Bermakna
Alih-alih datang ke tempat makan yang viral karena trend hanya untuk mengejar pengakuan semata, carilah dan bangun hubungan yang lebih bermakna. Sobat bisa membangun koneksi yang lebih bermakna dengan banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman terdekat sobat dengan mengunjungi tempat makan favorit.
Sobat tentu sudah lebih familiar dengan rasa maupun harga di tempat makan tersebut. Sobat bisa menyesuaikan makanan yang dipesan dengan kebutuhan sobat, sehingga resiko sisa makanan dari kegiatan yang dilakukan dapat dikurangi. Selain itu, menghabiskan waktu dengan teman-teman terdekat di tempat yang sering dikunjungi dapat semakin memperkuat hubungan yang sudah terjalin sebelumnya.
5.Latih Mindfulness
Mindfulness adalah latihan belajar untuk fokus pada hal apapun yang sobat lakukan. Tujuan dari mindufulness adalah agar sobat bisa fokus dan berakhir lebih menghargai apa yang sobat lakukan.
Untuk menjadi lebih bijak pangan, sobat sendiri bisa melatih untuk menerapkan mindfulness eating. Mindfulness eating sendiri adalah makan dengan penuh perhatian yang berfokus pada kesadaran sensual dan pengalaman terhadap makanan.
Apabila sobat ingin lebih banyak tahu tips tentang Mindfulness eating. sobat bisa baca artikel nya di sini! (Healtheroes.id). Tidak semua tempat yang muncul dalam trend harus kita datangi, pastikan kembali bahwa tempat yang kita akan datangi sesuai dengan apa yang kita inginkan atau sesuai dengan selera kita. Bertanggung jawablah atas makanan yang kamu pesan dengan menghabiskannya karena dibalik tampilan pangan yang disajikan, tidak sekadar estetika, namun juga terdapat jejak masalah yang tidak kasat mata
Penulis : Rizky Muhammad Aldi Fernanda
Referensi
Defitri, M. (2022, Oktober 7). 7 Negara Penghasil Food Waste Terbesar Namun Juga Krisis Kelaparan. Retrieved from Waste4Change: https://waste4change.com/blog/negara-penghasil-food-waste-terbesar-namun-juga-krisis-kelaparan/
Food And Agriculture Organization. (2015, July). FOOD LOSS AND WASTE IN THE FOOD SUPPLY CHAIN. Retrieved from https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/36cb45bc-392c-41fb-97f1-90ca1f16ee7f/content
Good Stats. (2022, Mei 7). Economist Intelligence Unit: Sektor Rumah Tangga jadi Penyumbang Sampah Makanan Terbesar di Indonesia. Retrieved from Good Stats: https://goodstats.id/article/sektor-rumah-tangga-penyumbang-sampah-makanan-terbesar-di-indonesia-vyZqy
Nabilah, F. (2024, September 13). Standarisasi Tiktok Dalam Konsep Simulacra Jean Baudrillard. Retrieved from Kumparan: https://kumparan.com/fikri112002/standarisasi-tiktok-dalam-konsep-simulacra-jean-baudrillard-23Vd8mUwiBI/1
Ramadhan, A. (2021, Oktober 12). Penelitian ungkap penyebab “Food waste” di Indonesia tinggi. Retrieved from Antara: https://www.antaranews.com/berita/2453397/penelitian-ungkap-penyebab-food-waste-di-indonesia-tinggi#mobile-src
Universitas Airlangga. (2024, Februari 12). Sampah Makanan Rumah Tangga di Indonesia. Retrieved from Universitas Airlangga Official Website: https://unair.ac.id/sampah-makanan-rumah-tangga-di-indonesia/