Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) merupakan perasaan khawatir, cemas, atau takut akibat ketinggalan informasi, pencapaian, tren atau aktivitas sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya, terutama melalui media sosial. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini menempatkan media sosial sebagai ruang hidup baru yang tidak bisa dipisahkan pada keseharian remaja. Sehingga, hampir semua remaja kecanduan menggunakan media sosial untuk mengakses informasi, tren dan melihat kehidupan seseorang yang di posting melalui media sosial.
Berdasarkan hal tersebut, mengindikasikan sekitar 64,6% remaja Indonesia mengalami FOMO akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, yang berujung pada peningkatan kecemasan, stres, depresi, dan gangguan tidur.
Pengalaman Menghadapi Kesehatan Mental Akibat FOMO
Aku pernah mengalami ini, aku sebagai seorang remaja yang menghabiskan sebagian waktunya dengan menggunakan media sosial untuk melihat informasi dan momen terbaru orang yang aku ikuti di media sosial. Aku kira mengakses media sosial untuk merehatkan pikiran ditengah-tengah kesibukan aku, namun hal tersebut justru membuat aku membandingkan dan menyalahkan diri sendiri.
Tekanan mental yang aku rasakan akibat hal tersebut dapat menyebabkan beberapa kondisi seperti halnya burnout, energi terkuras, tidak percaya diri ketemu orang lain, serta mengalami pola makan dan tidur yang kurang teratur. Namun, karena aku terlalu fokus terhadap kesibukan yang aku lakukan sehingga kurang menyadari atas dampak negatif yang telah aku rasakan akibat perilaku FOMO tersebut.
Setelah menyelesaikan salah satu pekerjaan, aku mulai memperhatikan diri sendiri di depan kaca dengan pikiran yang berantakan. Dari hal tersebut aku timbul kekhawatiran, hingga aku bercerita kepada teman dekat dan mencari informasi terkait kesehatan mental.
Menemukan Pentingnya Self Awareness dan Self Management
FOMO yang kuhadapi membuat aku sadar bahwa hal tersebut tidak baik. Dari kejadian ini aku belajar mengenai pentingnya self awareness, dimana seharusnya aku bersyukur atas pencapaian aku sendiri dan tetap berkembang sesuai kemampuan aku miliki. Sehingga, aku tidak membanding-bandingkan pencapaianku dengan pencapaian orang lain.
Karena setiap kemampuan, proses dan pencapaian seseorang itu beda-beda. Selain itu, self management juga penting sehingga aku perlu mengelola waktu dengan lebih baik lagi agar tidak digunakan untuk hal yang kurang produktif.

“Ilustrasi dampak FOMO terhadap kesehatan mental remaja di era digital”
Mengapa FOMO Mengganggu Kesehatan Mental?
1. Kecemasan Sosial dan Perasaan Tidak Berharga
Kecemasan sosial dan perasaan tidak berharga yang diakibatkan oleh FOMO banyak dialami oleh remaja, yang dimana erat hubungannya dengan media sosial dan sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Remaja yang memiliki harga diri rendah lebih sering mengalami kecemasan sosial karena mereka merasa kurang percaya diri dan tidak berharga dalam berinteraksi dengan orang lain. Sehingga, hal tersebut dapat memperparah dampak psikologis yang diakibatkan oleh FOMO (Fitriani et al., 2023). Ketergantungan penggunaan media sosial dapat mengakibatjab remaja lebih cemas dan merasa tidak berharga karena selalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat lebih “sempurna” di media sosial (Cahyadi, 2021).
2.Stres dan Depresi Akibat Tekanan Sosial
FOMO dapat mengakibatkan stres dan depresi di kalangan remaja. Ketakutan akan tertinggal informasi, momen, atau tren di media sosial membuat remaja merasa khawatir, cemas, takut dan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Remaja yang mengalami tekanan sosial akibat FOMO memiliki Risiko lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan mental remaja, salah satunya stres dan depresi yang diakibatkan oleh perasaan yang menerus kurang dan tertinggal dari orang lain (Budury et al., 2019). Selain itu, FOMO dapat menurunkan kepercayaan diri dan motivasi remaja pada kehidupan sehari-hari.
3.Gangguan Tidur dan Menurunnya Produktivas
Remaja sering begadang untuk terus memantau kegiatan seseorang di media sosial dapat mengganggu pola tidur dan kurangnya waktu istirahat yang berkualitas. Dari situlah, remaja sering mengalami kelelahan, kurang termotivasi, dan sulit untuk berkonsentrasi dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-harinya. Penggunaan media sosial yang berlebihan akibat FOMO dapat menghambat manajemen waktu dan produktivitas serta menurunkan motivasi dalam mengerjakan sesuatu dan menyebabkan perasaan tidak berharga (Maulana et al., 2023).
Saatnya Lebih Percaya Diri !
Pada akhirnya, fenomena FOMO mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diikuti dan tidak semua momen harus dimiliki. Kehidupan setiap orang memiliki ritme dan jalannya masing-masing yang tidak dapat di bandingkan melalui apa yang terlihat di media sosial. Remaja perlu menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman yang dibagikan, melainkan oleh bagaimana mereka memahami, menerima, dan menghargai diri sendiri.
Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran dalam menggunakan media sosial secara bijak serta menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. Dengan demikian, remaja dapat terhindar dari tekanan FOMO dan mampu menjaga kesehatan mentalnya secara lebih optimal.
Ingatlah bahwa tertinggal dari sesuatu bukan berarti kehilangan segalanya. Terkadang, itu adalah kesempatan untuk lebih fokus pada apa yang benar-benar bermakna dalam hidup.
Referensi:
Budury, S., Fitriasari, A., & -, K. (2019). Penggunaan Media Sosial Terhadap Kejadian Depresi, Kecemasan Dan Stres Pada Mahasiswa. Bali Media Jurnal, 6(2), 205-208.
Cahyadi, A. (2021). Gambaran Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) pada Generasi Z di kalangan Mahasiswa. Jurnal Widya Warta, 2, 146-154.
Fitriani, V. R. N., Hasanah, P. N., & Faozi B. F. (2023). Hubungan Harga Diri dengan Kecemasan Sosial pada Remaja. JUrnal Ilmu Keperawatan Sebelas April. 5(1), 47-54.
Maulana Yusuf No, J., Tangerang, K., & Tangerang, K. (2023) DIALEKTIKA KOMUNIKA: Jurnal Kajian Komunikasi Dan Pembangunan Daerah 11(1), 2023)
Zacky, Moh Nur, Mirna Abdullah, Alia (2025). Analisis Dampak Fomo Terhadap Kesehatan Mental Gen Z. NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol.12.





