Program HER Way (Healthy, Educated, and Resilient Wellbeing for Every Adolescent Girl and Young Woman) atau SEKAR (SEhat, Kaya PengetAhuan, dan Resilien) merupakan program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan remaja perempuan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan hidup, serta akses terhadap informasi kesehatan yang tepat. Program ini diimplementasikan oleh RISE Foundation bekerja sama dengan Project HOPE dengan dukungan Kimberly-Clark Corporation.
Sebagai bagian dari implementasi program tersebut, dilaksanakan kegiatan Health Heroes Facilitator (HHF) Goes to School di SMA Telkom Bandung pada tanggal 16 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai kesehatan reproduksi remaja, khususnya terkait masa pubertas, perubahan fisik dan emosional, serta pembentukan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembahasan kesehatan reproduksi remaja, penting untuk dipahami bahwa masa pubertas tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik, tetapi juga perubahan emosi, pola pikir, serta kebiasaan yang terbentuk selama proses pertumbuhan. Oleh karena itu, setelah sesi materi berlangsung, siswa diminta mengisi pre-test dan post-test reflektif untuk melihat perkembangan pemahaman mereka setelah mengikuti kegiatan. Jawaban yang diberikan siswa memberikan gambaran bagaimana remaja memahami pubertas serta bagaimana mereka menyikapi perubahan yang terjadi dalam diri mereka.

Berdasarkan hasil refleksi tersebut, sekitar 85% siswa pada post-test telah memahami bahwa pubertas merupakan proses perkembangan yang melibatkan perubahan fisik, emosional, dan hormonal. Dalam jawaban mereka, siswa tidak hanya menyebutkan perubahan tubuh, tetapi juga mengaitkannya dengan perubahan perasaan dan cara berpikir. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dibandingkan hasil pre-test, di mana sebagian siswa masih memberikan jawaban yang terbatas pada perubahan fisik saja.
Selain itu, sekitar 80% siswa menunjukkan pemahaman yang lebih baik terkait perubahan emosi (mood swing) yang terjadi selama masa pubertas. Siswa mampu memberikan contoh nyata, seperti perubahan perasaan yang cepat, menjadi lebih sensitif, atau mudah marah terhadap hal-hal kecil. Pemahaman ini menunjukkan bahwa siswa mulai mampu mengenali kondisi emosional yang mereka alami sebagai bagian dari proses pubertas.
Selanjutnya, sekitar 85% siswa telah mampu menjelaskan cara menghadapi masa pubertas secara lebih positif. Dalam jawaban mereka, siswa menyebutkan pentingnya menjaga kebersihan diri, mengontrol emosi, serta membangun kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan materi yang disampaikan dalam sesi kegiatan, di mana siswa diajak untuk membedakan kebiasaan baik dan kebiasaan buruk serta memahami dampaknya bagi diri mereka.
Sementara itu, sekitar 80% siswa menunjukkan peningkatan dalam kesadaran diri (self-awareness), khususnya dalam memahami kebiasaan yang pernah dilakukan serta upaya untuk membangun kebiasaan yang lebih baik. Dalam kegiatan reflektif, siswa diajak untuk mengidentifikasi kebiasaan buruk yang pernah dilakukan serta menggantinya dengan kebiasaan baik yang lebih positif. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa mulai mampu merefleksikan perilaku mereka dan menyadari pentingnya perubahan ke arah yang lebih baik.
Di sisi lain, terdapat sekitar 15–20% siswa yang masih memberikan jawaban sederhana atau belum menunjukkan pemahaman yang mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa telah mengalami peningkatan pemahaman, masih terdapat sebagian kecil yang memerlukan penguatan materi agar dapat memahami konsep pubertas dan pengelolaan diri secara lebih komprehensif.

Dominasi jawaban siswa yang lebih reflektif dan solutif pada post-test menunjukkan bahwa kegiatan HHF Goes to School memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran diri siswa. Materi yang disampaikan tidak hanya membantu siswa memahami perubahan yang terjadi selama masa pubertas, tetapi juga mendorong mereka untuk lebih sadar terhadap kebiasaan yang dimiliki serta bagaimana membangun kebiasaan yang lebih sehat.
Secara keseluruhan, refleksi siswa menunjukkan bahwa pemahaman mengenai pubertas berkembang tidak hanya sebagai proses biologis, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri yang melibatkan emosi, pola pikir, dan kebiasaan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan HHF Goes to School mampu membantu siswa mengaitkan materi yang diberikan dengan pengalaman pribadi mereka.
Melalui kegiatan HHF Goes to School, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai perubahan tubuh pada masa pubertas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk merefleksikan diri serta membangun kebiasaan yang lebih baik. Proses refleksi ini menjadi bagian penting dalam membantu remaja mengembangkan kesadaran diri, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang lebih sehat, percaya diri, dan bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri.






