Kamu Pernah Melewati Hari yang Kamu Pikir Tidak Akan Pernah Kamu Lewati

Pernah nggak kamu takut sama sebuah hari? Bukan takut dalam arti gentar sama hal-hal berbau mistis dan ketinggian tapi takut sama sesuatu yang jauh lebih nyata. Aku pernah, ada satu hari yang bahkan sebelum mataharinya terbit, aku sudah gemetar duluan.  

Waktu terasa berat. Dan anehnya, ketakutan terbesar bukan soal apa yang akan terjadi, tapi soal apakah aku akan cukup kuat untuk sampai ke ujung hari itu.  Dan mungkin kamu juga pernah punya hari seperti itu, hari yang kamu kira tidak akan pernah selesai, tapi ternyata selesai juga. 

 

Otak Kita Memang Dirancang untuk Melupakan

Kalau sekarang kamu mencoba mengingat kembali hari-hari paling berat yang pernah kamu lalui, dan rasanya sudah tidak setajam dulu, itu bukan karena kamu tidak tahu bersyukur. Itu memang cara kerja otak dan ini sudah dibuktikan secara ilmiah.

Ada fenomena yang disebut fading affect bias, yaitu kecenderungan alami otak manusia untuk membiarkan intensitas emosi negatif memudar lebih cepat dibanding emosi positif, seiring berjalannya waktu. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology (Hitchcock et al., 2019) menemukan bahwa ingatan autobiografis manusia secara umum lebih condong ke arah hal-hal positif, dan ini berperan penting dalam menjaga kesehatan psikologis seseorang.

Jadi ketika hari ini kamu membaca ulang kenangan buruk itu dan berpikir, “Ah, kayaknya dulu nggak separah itu deh,” justru di situlah buktinya bahwa kamu sudah melewatinya. Otakmu sedang bekerja melindungimu, memastikan kamu tidak terus-terusan tenggelam di tempat yang sama.

Bertahan Tidak Harus Terlihat Heroik

Kita sering membayangkan bertahan itu dramatis. Bangkit dari reruntuhan. Berdiri gagah. Melangkah penuh keyakinan ke depan. Tapi kenyataannya, bertahan seringkali terlihat sangat kecil, sangat biasa, dan tidak ada yang memperhatikan. Bertahan adalah ketika kamu berhasil mandi di hari yang rasanya bahkan untuk duduk pun berat. Bertahan adalah ketika kamu membalas satu pesan, padahal sebenarnya ingin menghilang dari semua orang. Bertahan adalah ketika kamu membiarkan malam itu berlalu tanpa melakukan hal yang akan kamu sesali. 

Studi yang dipublikasikan dalam Annual Review of Psychology (Neff, 2023) menunjukkan bahwa orang-orang yang mempraktikkan self-compassion setelah mengalami trauma terbukti lebih resilien dan bukan hanya itu, mereka juga mengalami pertumbuhan pasca-trauma serta kemampuan belajar yang lebih baik dari pengalaman sulit yang mereka lalui. Lebih jauh, penelitian dalam Frontiers in Psychology (2025) menegaskan bahwa self-compassion memperkuat regulasi emosi dengan cara mendorong kesadaran yang penuh, sehingga seseorang tidak jatuh ke dalam pola coping yang maladaptif seperti menghindar atau menyalahkan diri sendiri secara berlebihan

 

Apa yang sebenarnya tumbuh dari hari-hari itu?

Dalam psikologi, ada konsep yang disebut post-traumatic growth (PTG), yaitu perubahan positif yang muncul justru setelah seseorang melewati pengalaman yang sangat sulit. Post-traumatic growth tidak meniadakan dampak negatif dari trauma melainkan mengakui bahwa pertumbuhan bisa terjadi beriringan dengan rasa sakit (Senol-Durak, Di Tella & Romeo, 2023).

Kamu yang pernah tidak bisa tidur karena kecemasan, mungkin sekarang lebih mampu duduk menemani temanmu yang ada di kondisi yang sama. Kamu yang pernah merasa tidak ada yang peduli, mungkin sekarang menjadi orang yang paling peka terhadap kesunyian orang lain. Hari-hari yang dulu hampir menghancurkanmu itu, diam-diam, ikut membentuk kedalaman dirimu yang ada sekarang.

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan Saat Hari Berat Itu Datang?

Mungkin pertanyaannya bukan lagi “bagaimana caranya supaya tidak pernah merasa jatuh?”, karena kenyataannya setiap orang pasti pernah sampai di titik itu. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang bisa kita lakukan agar tidak tenggelam sendirian di dalamnya?

Berhenti menuntut diri untuk langsung kuat

Kadang yang membuat hari berat terasa semakin menyakitkan bukan hanya masalahnya, tetapi tuntutan bahwa kita harus segera “baik-baik saja”. Padahal, proses pulih tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika kamu merasa membaik, lalu keesokan harinya kembali lelah dan rapuh. Itu bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses menjadi manusia. Memberi ruang untuk merasa sedih, takut, atau kecewa tanpa terus menghakimi diri sendiri adalah bentuk self-compassion yang justru membantu seseorang lebih resilien dalam menghadapi tekanan hidup.

Kembali pada hal-hal kecil yang membuat tubuh merasa aman

Saat pikiran terasa terlalu penuh, sering kali tubuh adalah tempat pertama yang perlu ditenangkan. Makan walau sedikit, mandi, tidur lebih awal, membuka jendela kamar, atau berjalan sebentar di luar rumah mungkin terdengar sederhana. Namun, hal-hal kecil inilah yang sering membantu seseorang bertahan melewati hari-hari terberatnya. Bertahan tidak selalu terlihat heroik. Kadang, kemampuan untuk tetap merawat diri di tengah kekacauan sudah merupakan bentuk keberanian yang besar.

Berani mencari tempat bercerita, bukan memikul semuanya sendiri

Ada luka yang terasa lebih ringan hanya karena akhirnya diucapkan. Berbicara dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya bukan berarti mencari solusi instan, melainkan memberi ruang agar diri tidak larut sendirian dalam pikiran sendiri. Dukungan emosional membuat seseorang merasa dipahami dan diingatkan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.

 

Hari terberat apa yang dulu kamu kira tidak akan bisa kamu lewati dan ternyata kamu berhasil melewatinya?

 

Referensi: 

Hitchcock, C., Newby, J., Timm, E., Howard, R. M., Golden, A. M., Kuyken, W., & Dalgleish, T. (2019). Memory category fluency, memory specificity, and the fading affect bias for positive and negative autobiographical events. Journal of Experimental Psychology: General.

Neff, K. D. (2023). Self-compassion: Theory, method, research, and intervention. Annual Review of Psychology. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-032420-031047

Frontiers in Psychology. (2025). Self-compassion, psychological capital, and life satisfaction. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1510987

Senol-Durak, E., Di Tella, M., & Romeo, A. (2023). Editorial: Post-traumatic growth. Frontiers in Psychology. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1227892

Facebook
Twitter
LinkedIn
Picture of Health Heroes Her Way

Health Heroes Her Way

211

Bergabung

100.000

Tujuan Berikutnya

Ikuti Kampanye Ini

Form 1

Mereka yang Sudah Bergabung

Iklan Sponsor

Artikel Populer

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »