Aku Capek, Tapi Takut Berhenti Belajar: Burnout Saat Ujian yang Sering Disalah Artikan Sebagai Malas

Malam sebelum ujian seringkali menjadi waktu yang paling melelahkan bagi banyak pelajar dan mahasiswa. Di kamar yang dipenuhi catatan, laptop menyala, dan playlist Spotify yang diputar berulang kali, seseorang masih berusaha memahami materi walaupun pikirannya sebenarnya sudah terlalu penuh. 

Di sisi lain, ada rasa takut jika berhenti belajar maka hasil ujian tidak akan maksimal. Akhirnya, tubuh dipaksa terus bekerja meskipun otak sebenarnya sudah meminta untuk istirahat. Situasi itu pernah saya alami sendiri.

H-1 ujian menjadi momen ketika saya dihadapkan pada dua pilihan, yakni tetap belajar sampai larut malam atau berhenti karena sudah merasa terlalu lelah. Namun, karena ingin mendapatkan hasil terbaik, saya memilih untuk tetap belajar. 

Sayangnya, semakin lama saya duduk di depan laptop, semakin terasa bahwa materi yang saya baca itu tidak benar-benar masuk ke kepala. Pikiran justru dipenuhi banyak hal lain seperti takut gagal, takut mengecewakan orang tua, takut tertinggal dari teman-teman, hingga takut dipandang buruk oleh orang lain ketika hasil ujian tidak sesuai harapan.

Dari situ saya mulai menyadari bahwa apa yang saya rasakan bukan sekadar malas belajar saja, tapi saya hanya terlalu lelah secara mental.

Burnout Akademik Itu Nyata

Menurut World Health Organization, burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang terjadi akibat stress berkepanjangan. Pada remaja dan mahasiswa, academic burnout sering muncul karena tekanan akademik yang tinggi, ekspektasi berlebihan terhadap diri sendiri, dan juga kurangnya waktu untuk beristirahat.

Sayangnya, banyak orang tidak sadar bahwa burnout bisa muncul dalam bentuk yang sangat sederhana. Seseorang masih bisa terlihat produktif, tetap hadir di kelas, bahkan masih aktif di media sosial, tetapi sebenarnya sedang merasa sangat lelah di dalam dirinya sendiri. 

Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri 

Burnout akademik juga sering diperparah oleh kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Tanpa sadar, hal tersebut membuat banyak pelajar atau mahasiswa mulai mempertanyakan dirinya sendiri. “Kenapa saya tidak bisa seperti mereka?”

Saya juga pernah berada di fase itu. Bukannya merasa termotivasi, saya justru semakin merasa tertinggal dan tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Padahal, setiap orang memiliki kapasitas dan proses yang berbeda.

Menurut penelitian dari American Psychological Association, tekanan akademik yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, gangguan tidur, kecemasan berlebih, hingga hilangnya motivasi belajar. Selain itu, kebiasaan overthinking dan penggunaan media sosial secara berlebihan juga dapat memperburuk kondisi mental seseorang saat menghadapi ujian.

Fun Fact

Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk fokus penuh selama berjam-jam tanpa jeda. Istirahat singkat selama beberapa menit justru membantu otak menyimpan informasi lebih efektif dibanding memaksakan belajar terus-menerus.

Burnout tidak hanya mempengaruhi proses belajar, tetapi juga aktivitas sehari-hari. Saya sendiri sering merasa kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan lain ketika sedang burnout. Ada rasa malas untuk memulai aktivitas, menunda pekerjaan, bahkan lebih sering menghabiskan waktu dengan scrolling media sosial tanpa tujuan yang jelas. Bukannya merasa lebih tenang, pikiran justru semakin penuh.

Jika harus menggambarkan kondisi saat burnout, mungkin saya bisa mendeskripsikan nya seperti:

“Baterai tinggal 5%, tapi tetap dipaksa menyala penuh karena masih banyak tuntutan.”

Hal yang paling melelahkan ternyata bukan tugas atau ujiannya, tetapi usaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan orang lain. 

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri 

Namun, seiring waktu saya mulai belajar memahami diri sendiri. Saya sadar bahwa semua hal buruk tidak akan berlangsung selamanya. Nilai ujian bukan satu-satunya penentu masa depan, dan menjadi lelah bukan berarti lemah. 

Dari situ saya mulai mencoba memberi jeda untuk diri sendiri, tidur lebih cukup, berhenti membandingkan proses dengan orang lain, dan mulai memahami bahwa kesehatan mental juga penting untuk dijaga.

Kita semua sering diajarkan untuk terus bekerja keras demi hasil terbaik, tetapi jarang diajarkan bagaimana cara beristirahat dengan sehat. Padahal, memaksa diri terus berjalan tanpa jeda hanya akan membuat seseorang semakin kehilangan arah. Karena itu, penting bagi anak muda untuk mulai lebih peduli terhadap kesehatan mentalnya sendiri dan memahami batas kemampuan dirinya.

“Tidak apa-apa jika hari ini terasa berat. Tidak apa-apa jika merasa lelah. Yang terpenting adalah jangan membiarkan diri tenggelam terlalu lama di dalam rasa bersalah hanya karena kamu tidak maksimal hari ini.”

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling kuat memaksa dirinya terus berjalan, tetapi siapa yang tahu kapan harus berhenti sejenak untuk bernapas dan kembali menguatkan dirinya sendiri.

Referensi

World Health Organization. “Burn-out is an occupational phenomenon.”

American Psychological Association. “Stress in Teens and Academic Pressure.”

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Edukasi kesehatan mental remaja.

Madigan, D. J., & Curran, T. (2021). Does Burnout Affect Academic Achievement? A Meta-Analysis of over 100,000 Students. Educational Psychology Review.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Picture of Health Heroes Her Way

Health Heroes Her Way

211

Bergabung

100.000

Tujuan Berikutnya

Ikuti Kampanye Ini

Form 1

Mereka yang Sudah Bergabung

Iklan Sponsor

Artikel Populer

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »