Perfeksionisme yang Sehat: 4 Cara Mengatasi Sifat Perfeksionis Tanpa Kehilangan Semangat Berkembang

JADI PREFEKSIONIS ITU SALAH GASIH?

Perfeksionisme yang sehat sering menjadi tantangan bagi banyak orang. Kita ingin memberikan hasil terbaik dalam setiap pekerjaan, tetapi tanpa sadar tuntutan untuk selalu sempurna justru membuat kita stres, kelelahan, bahkan menjadi terlalu keras pada diri sendiri. Kegiatan yang kita lakukan sehari-hari tuh hasilnya harus bagus kan?

Hasil kerja kita tuh harusnya membuahkan output yang harus bikin orang takjub kan?
Percuma aja dong kalau udah kerjain sampe begadang tapi hasilnya jelek!

Pernah ga sih beberapa pertanyaan itu terlintas di benak kalian guys?? kalau pernah kamu berarti ga sendirian karena aku pun melakukan hal itu ke diriku sendiri. Tanpa sadar beberapa kalimat itu bikin aku secara ga langsung jadi toxic sama diri sendiri, aku tanpa sadar terus-terusan membuat diri aku untuk bekerja lebih keras untuk memenuhi hasil dari kata ‘PERFEKSIONIS’ dalam buku ‘The Gifts of Imperfection’ (hal 9) menjelaskan

Menjelaskan bahwa perfeksionisme masuk dalam kategori hal-hal yang “tidak boleh” dipelihara jika ingin hidup bahagia dan sehat secara mental.

BERATI GABOLEH YA JADI ORANG PREFEKSIONIS?

Bukan berarti ‘tidak boleh’ dalam hal ini perfeksionis juga harus diukur dari seberapa paham kita akan batasan diri dan juga batasan dalam hal pekerjaan. Menjaga batasan itu perlu untuk menghasilkan hal yang baik untuk diri sendiri, seperti dalam isi buku ‘The Gifts of Imperfection’ (hal 56)


Perfeksionisme yang Sehat

SO HOW TO BE A GOOD PERSON WITH PERFECTIONISM SIDE?

‘Done better than being perfect’ Setelah menyadari bahwa perfeksionisme sering kali menjadi perisai yang melelahkan—seperti yang diingatkan oleh Brené Brown daalam pertanyaan besarnya: Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak bisa menghilangkan sifat perfeksionis ini dalam semalam karena ia sudah menjadi bagian dari cara kita berpikir (he Gifts of Imperfection). Namun, kita bisa menjinakkannya.

Kita bisa tetap menjadi orang baik yang peduli pada sesama tanpa harus mengorbankan kesehatan mental diri sendiri. Berikut adalah beberapa langkah konkret untuk mengarahkan ulang energi perfeksionismemu ke arah yang lebih sehat:

1. Ubah Moral Perfectionism Menjadi Healthy Striving

Orang perfeksionis yang ingin berbuat baik sering terjebak dalam moral perfectionism. Kita merasa tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun, tidak boleh menolak permintaan orang lain, dan harus selalu menjadi penolong yang sempurna. Standar ini tidak realistis.

Mulai sekarang, ubahlah sudut pandangmu menjadi healthy striving (berusaha secara sehat). Alihkan fokus yang tadinya, “Bagaimana agar aku terlihat sempurna dan disukai semua orang?” menjadi, “Bagaimana aku bisa memberikan dampak baik yang tulus sesuai dengan kapasitas yang aku miliki saat ini?” Menjadi orang baik fokus pada ketulusan niat, bukan untuk mencari validasi orang lain.

2. Praktikkan Prinsip “Good Enough is Enough” (Cukup Baik itu Sudah Cukup)

Sisi perfeksionis kita adalah penganut aliran ekstrem all-or-nothing—kalau tidak bisa membantu sampai tuntas dan sempurna, lebih baik tidak usah sama sekali, atau kita akan berakhir stres karena merasa gagal. Di dunia nyata, prinsip ini justru menghambat kita untuk berbuat baik.

Belajarlah menerima bahwa tindakan baik yang “cukup” jauh lebih berharga daripada rencana kebaikan “sempurna” yang hanya ada di dalam kepala. Ketika seorang teman sedang sedih, kamu tidak harus menyelesaikan seluruh masalah hidupnya saat itu juga. Meluangkan waktu 15 menit untuk mendengarkan ceritanya dengan penuh perhatian sudah cukup baik dan sangat berarti bagi mereka.

3. Jadikan Perfeksionis sebagai Kompas, Bukan Cambuk

Sisi perfeksionis di dalam dirimu sebenarnya menyimpan kekuatan yang besar. Sifat ini membuatmu memiliki standar moral yang tinggi, empati yang dalam, detail, dan sangat peduli pada kualitas hubungan dengan orang lain. Jangan buang kekuatan ini.

Jadikan energi perfeksionis sebagai kompas atau petunjuk arah yang membantumu merencanakan kebaikan atau menolong orang lain dengan rapi, terstruktur, dan penuh tanggung jawab. Namun, jangan pernah biarkan ia berubah menjadi cambuk yang memukul dirimu sendiri dengan rasa bersalah yang berlebihan ketika bantuanmu ternyata tidak berjalan mulus, salah dipahami, atau bahkan ditolak oleh orang lain.

4. Menyalurkan Kebaikan ke Dalam Diri Melalui Self-Compassion

Menyambung apa yang ditulis dalam The Gifts of Imperfection, kita tidak akan pernah bisa menjadi orang yang benar-benar baik dan tulus bagi orang lain jika kita terus-menerus memperlakukan diri sendiri seperti musuh.

Saat kamu tidak sengaja melakukan kesalahan kecil, salah bicara, atau tidak sengaja mengecewakan seseorang, terapkan welas asih pada diri sendiri (self-compassion). Sadarilah bahwa berbuat salah adalah hal yang sangat manusiawi. Meminta maaf secara tulus dan belajar dari kesalahan tersebut justru menunjukkan kualitas diri sebagai orang baik yang sesungguhnya.

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »