Dampak Mom Shaming pada Ibu Muda: Resiko Baby Blues dan hilangnya Kepercayaan diri sejak dini

Di era digital ini, media sosial telah berubah menjadi medan pertempuran baru bagi para ibu, pernahkah kalian melihat kasus mom shaming yang semakin marak di era sekarang? Menjadi ibu baru adalah perjalanan emosional yang luar biasa. Namun, di tengah perjuangan beradaptasi dengan peran baru, banyak ibu muda justru harus menghadapi tantangan tambahan berupa mom shaming. Komentar negatif tentang cara mengasuh anak baik secara langsung maupun lewat media sosial bukan sekadar “kritik membangun”. Hal ini justru meruntuhkan rasa percaya diri seorang ibu.  Alih alih mendapat dukungan, banyak ibu justru harus berjuang melawan stigma negatif dari lingkungan sekitar, bahkan dari sesama perempuan.

Seperti Apa sih Mom Shaming?

Mom Shaming merupakan salah satu wujud dari perilaku bullying yang seringkali tanpa disadari menimpa seorang ibu dalam interaksi sosialnya. Para ibu muda sangat rentan mendapat kritik, baik secara langsung maupun melalui media sosial, terkait pola asuh dan cara mereka dalam membesarkan anak.

Contoh Tindakan Yang Ternyata termasuk Mom Shaming!

1. Mengkritik pilihan menjadi ibu

Rumah tangga atau berkarir, dua hal ini memang sering menjadi dilema bagi banyak wanita. Namun, bukan berarti berhak untuk menghakimi orang lain mengenai pilihannya untuk sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak atau memilih berkarir.

2. Mencela pilihan tentang pemberian ASI

Karena sebenarnya pemberian ASI kepada sang bayi itu penting dalam memenuhi nutrisi nya, membantu sistem imun kuat, dan kesehatan jangka panjang. Banyak orang orang yang akan langsung mengkritik jika seorang ibu tidak memberikan ASI pada sang bayi tanpa memahami dan mengetahui kondisi dari sang ibu bagaimana. Entah ia mengalami kondisi medis tertentu, masalah anatomi payudara atau bahkan ASI tidak keluar.

3. Mempertanyakan perkembangan bayi

Banyak orang yang mengomentari atau mengkritik seorang ibu karena anaknya belum bisa berbicara di usia 2 tahun. Sebab setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda beda.

4. Mengkritik pilihan metode persalinan

Orang-orang mengkritik keputusan seorang ibu yang memilih untuk melakukan persalinan caesar tanpa memahami pertimbangan dibalik keputusan tersebut. Kritikan bisa dalam bentuk kata-kata, seperti “belum jadi ibu kalau belum melahirkan normal” atau “gitu aja kok gak kuat”.

5. Mengkritik pola asuh

Mengkritik pola asuh ibu bisa menjadi salah satu bentuk Mom Shaming. Walaupun hanya bermaksud untukmemberikan masukan, mengoreksi dan mengkritik pola asuh seorang ibu juga dapat menjadi salah satu bentuk Mom Shaming. Oleh karena itu, jika melihat bayi terlihat sehat dan gembira, sebaiknya tidak perlu mengkritik pola asuh yang dilakukan ibunya.

 

6. Memaksakan gaya hidup

Jika terbiasa dengan gaya hidup tertentu, misalnya menghindari terigu, bukan berarti harus mengkritik ibu lain yang memberikan anaknya gorengan. Gaya hidup yangdipaksakan dan digunakan sebagai standar menilai kemampuan ibu lainnya dalam mengasuh, juga termasuk dalam Mom Shaming.

7. Menghakimi postingan media sosial

Salah satu arti Mom Shaming adalah menghakimi. Maka dari itu, tindakan menghakimi apa pun, termasukpostingannya di dunia maya, termasuk dalam perilaku Mom Shaming yang sebaiknya dihindari.

8. Mengomentari tubuh ibu lainnya

Bentuk lainnya dari Mom Shaming adalah mengomentari tubuh ibu lainnya, baik menyebutnya terlalu gemuk atau terlalu kurus. Tidak berkomentar atau hanya memberi saran saat diminta, adalah cara terbaik untuk menghindari Mom Shaming.

Inilah Dampak Mom Shaming bagi Seorang Ibu!

1. Pemicu Baby Blues dan Depresi: Kritik negatif terus-menerus dapat memicu perasaan gagal, kesedihan mendalam, dan rasa bersalah yang memicu baby blues. Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko berkembang menjadi depresi pasca persalinan (postpartum depression).

2. Penurunan Parenting Self-Efficacy: Mom shamingberhubungan negatif dengan kepercayaan diri ibu dalam mengasuh anak. Semakin tinggi tingkat perlakuan mom shaming, maka semakin rendah kepercayaan ibu terhadap kompetensinya sebagai orang tua.

3. Kecemasan dan Stres Kronis: Ibu korban shaming sering mengalami gejolak hormon yang memengaruhi neurotransmitter di otak, sehingga mencetuskan rasa cemas berlebih (anxiety) mengenai pola pengasuhannya.

4. Penarikan Diri secara Sosial: Untuk menghindari penghakiman, ibu cenderung membatasi interaksi dengan lingkungan sosialnya, yang justru menghilangkan sistem dukungan (support system) yang krusial.

5. Gangguan Kesehatan Fisik: Stres psikologis akibat mom shaming dapat berdampak fisik, salah satunya adalah berkurangnya produksi ASI.

Bagaimana Cara Menghadapinya?

1. Prioritaskan Perawatan Diri

Para ibu cenderung menempatkan diri mereka di urutan terakhir, yang dapat membuat pengalaman menjadi seorang ibu menjadi sangat melelahkan. Hal ini dapat terjadi karena berbagai alasan—mereka mungkin bertindak berdasarkan ekspektasi mereka tentang peran sebagai ibu, atau mereka mungkin merasa bersalah atau malu karena orang lain. Memprioritaskan perawatan diri sendiri dan meluangkan waktu untuk mengisi kembali energi dapat membantu Anda menjadi lebih percaya diri dan tangguh secara emosional.

2. Fokus pada Pengembangan Diri sebagai Orang Tua

Alihkan fokus Anda dari apa yang orang lain pikirkan ke apa yang dapat Anda lakukan untuk menjadi versi diri Anda yang lebih bahagia dan lebih terpenuhi. Apa tujuan Anda sebagai individu? Tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain, apa tujuan Anda sebagai orang tua?

3. Berhenti Membandingkan Diri Anda dengan Orang Lain

Perilaku mempermalukan ibu (mom shaming) dapat dipicu oleh persaingan dan perbandingan. Namun, ingatlah bahwa setiap orang memiliki tantangan dan kesulitan dalam hidupnya, dan tidak ada gunanya membandingkan perasaan Anda di dalam dengan penampilan orang lain di luar.

4. Percaya Diri dengan Keputusan Anda

Setelah Anda membuat keputusan terkait pengasuhan anak, tetaplah berpegang teguh pada keputusan tersebut. Percayalah bahwa Anda telah membuat keputusan terbaik yang bisa Anda buat dengan informasi yang Anda miliki. Keraguan hanya akan menyebabkan lebih banyak rasa tidak aman dan keraguan, serta mengundang orang lain untuk memberikan pendapat mereka, jadi jangan biarkan diri Anda mengikuti jalan itu.

5. Pilih Satu atau Dua Sumber Tepercaya untuk Mendapatkan Informasi

Ada begitu banyak sumber informasi di luar sana tentang pengasuhan anak, dan banyak di antaranya saling bertentangan. Pilihlah hanya satu atau dua sumber tepercayamisalnya, penyedia layanan kesehatan, buku, anggota keluarga, atau teman baik. Ketika Anda membutuhkan dukungan, tetaplah berpegang pada beberapa sumber tepercaya tersebut daripada terjebak dalam kelebihan informasi, yang pada akhirnya akan menyebabkan lebih banyak kebingungan.

6. Temukan Komunitas Ibu Anda

Cara ampuh untuk menyembuhkan rasa malu adalah dengan mengungkapkannya dan berbicara dengan orang lain yang mengerti. Empati dan koneksi adalah penawar rasa malu. Anda dapat menemukan komunitas ibu Anda melalui kelompok teman yang sudah ada, media sosial, ataukelompok dukungan secara langsung atau daring.

7. Berhenti mengikuti akun media sosial yang membuat Anda merasa tidak enak.

Jika sebuah akun media sosial membuat Anda membandingkan diri Anda dengan mereka secara negatif, atau menimbulkan perasaan tidak aman atau ragu-ragu,berhentilah mengikuti! Media sosial adalah untuk bersenang-senang dan menjalin koneksi, tidak ada alasan untuk mengikuti akun yang membuat Anda merasa lebih buruk. Untungnya, ada juga banyak akun media sosial yang berkaitan dengan pengasuhan anak yang berfokus pada pendekatan pengasuhan tanpa menghakimi mungkin akan bermanfaat untuk menemukan akun-akun tersebut.

8. Rayakan Kesuksesan Kecil

Berhasil keluar rumah dalam 20 menit, bukan 45 menit? Melewati hari tanpa insiden popok bocor yang parah? Mandi tanpa gangguan setelah berjalan-jalan sebentar? Rayakan kemenangan-kemenangan itu! Putar musik dan menari. Telepon teman atau pasangan Anda dan berbagi cerita. Peluk diri sendiri. Belikan diri Anda hadiah. Merayakan kemenangan membantu mengalihkan pikiran Anda untuk memperhatikan hal-hal positif dan dapat membantu Anda mengatasi keraguan diri.

9. Tetapkan Batasan

Jika seseorang menawarkan nasihat yang tidak diminta, tidak apa-apa untuk menolak! Anda tidak harus menerimanya. Cobalah mengatakan sesuatu seperti, “Saya sebenarnya tidak sedang mencari nasihat saat ini, tetapi terima kasih banyak atas perhatian Anda.” Ingatlah bahwa menetapkan batasan yang sehat sebenarnya dapat membantu Anda menjaga orang-orang di sekitar Anda dengan cara yang sehat.

10. Mintalah Bantuan

Di sisi lain, ketika Anda membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk memintanya. Anda tidak harus melakukan ini sendirian. Menjadi seorang ibu itu sulit, dan para ibu seringkali enggan meminta bantuan karena merasa seharusnya mereka mampu melakukan semuanya sendiri. Meminta bantuan dari orang-orang yang mendukung dapat mempererat hubungan Anda dan membangun komunitas Anda.

Pada akhirnya, tidak ada panduan tunggal yang sempurna dalam membesarkan seorang anak. Setiap ibu memiliki situasi, tantangan, dan alasan tersendiri di balik setiap keputusan yang mereka ambil untuk keluarganya. Mengubah budaya kritik menjadi budaya dukung memerlukan kesadaran kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Saat kita berhenti menuntut kesempurnaan dari seorang ibu, kita sedang memberikan ruang bagi mereka untuk mengasuh dengan cinta yang tulus. Mari bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi setiap ibu untuk tumbuh dan belajar tanpa rasa takut dihakimi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Ayu, D. S. (2022). Apakah Ada Kaitannya Mom Shaming dengan Baby Blues?https://nakita.grid.id/amp/023243768/apakah-ada-kaitannya-mom-shaming-dengan-baby-blues-begini-penjelasan-dari-psikolog

Sari, P. (2025). Analisis Kesehatan Mental Ibu Muda Korban Mom Shaming di Kota Makassar. Repository Universitas Hasanuddin.

Ulandari, Y. (2023). Hubungan Perilaku Mom Shaming dengan Parenting Self-Efficacy Ibu. Risenologi, 8(1), 11–19.

KlikDokter. (2019). Dampak Buruk Mom Shaming pada Kesehatan Ibu. (Menjelaskan gejolak hormon akibat shaming yang memengaruhi neurotransmitter otak sehingga mencetuskan rasa cemas berlebih).https://www.klikdokter.com/psikologi/psikologi-keluarga/dampak-buruk-mom-shaming-pada-kesehatan-ibu

Sahal, U. (2022). Dosen Psikologi Ungkap Bahaya Mom Shaming dan Pengaruhnya bagi Mental Ibu. Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Penarikan Diri secara Sosial Adiyanto, W., & Afiati, A. I. (2020). Mekanisme kuasa dalam fenomena mom shaming pada peran perempuan sebagai ibu. Lontar: Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(1).

Yanti, E. D. (2021). Hubungan Stres Psikologi dengan Produksi ASI pada Ibu Postpartum.

Stikes DHB. (2024). Hubungan Kecemasan dengan Produksi ASI pada Ibu Postpartum. Repository Stikes DHB.(Terdapat hubungan signifikan antara tingkat kecemasan ibu dengan ketidaklancaran produks iASI).

https://siakad.stikesdhb.ac.id/repositories/400824/4008240245/ARTIKEL%20PDF.pdf

Ningsih, S. I (ANALISA SEMIOTIKA MOM SHAMING SETELAH MELAHIRKAN DI TIKTOK). https://repo.unespadang.ac.id/id/eprint/88/1/JURNAL_(IKA_SEPTIA_NINGSIH).pdf

Risser, M. (2022). Perilaku Mempermalukan Ibu: Definisi, Contoh, & Cara Mengatasinya

https://www.choosingtherapy.com/mom-shaming/

 

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »