From Hormuz to Women’s Green Power : Bagaimana Perempuan Pimpin Transisi Energi Hijau Terbarukan

Pagi hari di sebuah keluarga kecil seorang ibu menyalakan kompor LPG untuk memasak sarapan anak-anaknya. Bulan ini, ibu ini termenung karena harga bahan pokok terus melonjak naik akibat krisis energi yang timbul akibat konflik di Selat Hormuz. Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial dalam perdagangan minyak mentah saat ini memegang 20-30% jalur perdagangan minyak dunia. Selat ini ditutup akibat konflik geopolitik Amerika Serikat – Iran. Akibatnya terjadi blockade di selat ini menyebabkan harga minyak mentah dunia tembus US$100–120 per barel, naik 39–55% dari harga sebelumnya (Per Maret 2026).

Hormuz

Peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan perannya dalam distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) di Timur Tengah ke pasar global melalui Laut Arab dan Samudra Hindia. (Sumber : CBS News)

Tingginya harga minyak dunia menyebabkan domino effect ke seluruh lini kehidupan di Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah akibat ketidakpastian global dan tekanan krisis energi membuat Pemerintah Indonesia perlu mengoptimalkan APBN sebagai salah satu instrumen shock absorber untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. 

Melalui kebijakan subsidi dan kompensasi energi, pemerintah berupaya mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus menekan risiko kenaikan inflasi. Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah ini didukung oleh penelitian oleh Sarbaini (2023) yang mengungkapkan bahwa subsidi BBM sangat berpengaruh secara signifikan terhadap laju inflasi, yang nantinya inflasi mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi. Jika subsidi BBM dan LPG membuat APBN membengkak, tekanan fiskal negara akan semakin meningkat. Dikutip dari Kementerian ESDM (2025),  setiap kenaikan US$10 per barel dapat menambah beban subsidi BBM dan LPG sekitar Rp30 sampai Rp40 triliun per tahun. 

Artinya, bila harga minyak naik dari asumsi APBN US$70 ke sekitar US$100 per barel, tambahan bebannya sekitar Rp90 – Rp120 triliun per tahun. Dibanding Pagu APBN untuk subsidi BBM dan LPG tahun 2026 sebesar Rp105,41 triliun, Hal ini berarti potensi pembengkakan sekitar 85,4% sampai 113,85%. 

Membengkaknya beban APBN juga membuka peluang untuk menimbulkan dampak yang lebih besar. Keluarga dengan pendapatan kecil yang paling merasakan getahnya. Tidak berhenti sampai disana, Indonesia sebagai salah satu importir minyak di Asia Tenggara, kembali diingatkan betapa rapuhnya ketergantungan kita pada energi tak terbarukan. 

Krisis Hormuz ini bukan krisis pertama yang pernah dihadapi, dan tanpa adanya perubahan struktural, krisis seperti ini bisa datang kapan saja. Ini wake-up call keras bagi para orang muda untuk selalu keep in touch terhadap isu energi dan lingkungan serta ikut mendorong pemerintah untuk melakukan transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan serta lebih bertanggung jawab.

Mengapa Ini Bukan Sekadar Krisis Energi? 

Ketika harga energi naik, yang akan ikut naik tidak hanya neraca negara, tetapi neraca belanja ibu rumah yang juga akan terguncang akibat meroketnya harga kebutuhan sehari-hari di pasar. Dalam praktik sehari-hari, kelompok yang merasakan tekanan terlebih dahulu adalah perempuan, terutama para ibu-ibu dan remaja perempuan yang sedang merantau

Mereka harus mulai mengencangkan ikat pinggang dan mulai pintar mengatur belanja dapur serta memilih kebutuhan mana yang harus dikurangi. Selain itu, juga harus tetap memastikan rumah tangga bisa berjalan di tengah harga yang terus naik. 

Contoh kecil lain yang mulai dirasakan ibu-ibu dan remaja perempuan yakni melonjaknya harga plastik. Bahan baku plastik, nafta yang merupakan turunan dari minyak bumi juga mengalami dampak tak terelakkan akibat konflik di Selat Hormuz. Dikutip dari Kompas, yang mewawancarai Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menyatakan bahwa bahan baku plastik yaitu nafta 70% dikirim dari negara timur tengah, terkena gangguan rantai pasok akibat konflik di Selat Hormuz. Pada akhirnya, krisis energi bukan hanya persoalan pasokan dan fiskal, tetapi juga persoalan keadilan, karena dampak terberatnya justru ditanggung oleh mereka yang paling rentan.

Pentingnya agenda Transisi Energi yang Berkeadilan (Just Energy Transition /JET) terletak pada kemampuannya menghubungkan target lingkungan dengan keadilan sosial, sehingga tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal. Seperti contohnya di Muara Enim, sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi 69,59% PDRB kabupaten (data BPS). 

Perempuan di sini menghadapi “dampak ganda” dimana mereka merasakan polusi debu dan limbah tambang yang mengganggu kesehatan pernapasan serta reproduksi, ditambah beban rumah tangga yang semakin berat saat harga energi naik. Hal ini selaras dengan riset di California yang dilakukan oleh Gender Equity Policy Institute (2025) melaporkan bahwa 1 dari 5 perempuan menghadapi biaya energi yang tidak terjangkau, dan juga mengungkapkan bahwa 19% orang dewasa mengalami beban energi. 

Jika dilihat kembali berdasarkan gender, perempuan memiliki tingkat beban energi yang lebih tinggi sebesar 20%, sedangkan laki-laki hanya 17%. Kejadian lain akhirnya juga ikut bermunculan akibat krisis energi ini, sehingga membuka mata kita bahwa ada kenyataan yang kerap luput dari pusat pembicaraan, yakni kerentanan struktural yang selama ini bekerja secara senyap di tingkat rumah tangga dan komunitas. 

Dalam situasi seperti ini, perempuan sering mengalami dampak ganda karena tidak hanya menghadapi resiko kesehatan, tetapi mereka juga memikul tanggung jawab lebih besar dalam mengatur kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan. Namun, pengalaman dan suara mereka masih terlalu sering ditempatkan di pinggir diskusi kebijakan energi. 

Karena itu, diperlukan ruang yang inklusif dan partisipatif agar perempuan dapat menyampaikan secara langsung persoalan, kebutuhan, dan strategi bertahan yang mereka alami. Kehadiran ruang semacam ini penting untuk menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai kelompok terdampak, melainkan sebagai aktor kunci dalam mendorong transisi energi hijau yang adil dan berkelanjutan.

Dari Akar Masalah ke Akar Rumput 

Melihat isu dan krisis ini RISE Foundation menginisiasi program Ruang Masyarakat dan Perempuan Hidupkan Inisiatif Hijau (RUMPUN HIJAU) yang bertujuan menciptakan ruang dialog dan advokasi yang aman, setara, dan representatif, di mana perempuan dan remaja perempuan tidak hanya menerima informasi, melainkan secara  aktif membangun pengetahuan bersama.

RUMPUN HIJAU mengolaborasikan agenda nasional dan global melalui model transisi energi yang berfokus pada manusia. Dengan begitu, kelestarian lingkungan, keadilan sosial, dan ketahanan ekonomi berjalan bersama, mendukung Indonesia yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. 

Krisis Hormuz mengingatkan kita bahwa ketergantungan pada energi fosil bukan lagi pilihan. Sebagai orang muda sudah Saatnya perempuan dan remaja perempuan tidak lagi hanya menjadi kelompok yang paling terdampak, melainkan pemimpin utama dari solusi permasalahan yang ada. Melalui inisiatif ini RUMPUN HIJAU, perempuan dan remaja perempuan di Muara Enim kini memiliki ruang untuk membangun literasi energi, mengasah green skills, dan mempengaruhi kebijakan lokal. 

Ini adalah wujud nyata Just Energy Transition,  di mana suara dari akar rumput benar-benar didengar. Mari kita dukung bersama dengan aksi pergerakan RUMPUN HIJAU, mulailah dari hal kecil di lingkungan kita seperti diskusikan transisi energi dengan keluarga atau komunitas. Karena masa depan energi Indonesia yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan justru lahir dari tangan perempuan di akar rumput.

 

Refrensi:

Badan Pusat Statistik Kabupaten Muara Enim. Kabupaten Muara Enim Dalam Angka 2025. Muara Enim: BPS Kabupaten Muara Enim, 2025.

Joshep, H. (2026, Maret 26).Current price of oil as of March 25, 2026. Fortune. https://fortune.com/article/price-of-oil-03-25-2026/

Juanda, V.S. (2025, Juni 26). Konflik Israel – Iran Mengancam Pasokan Energi Dunia, Indonesia Perlu Siaga. Kementrian ESDM. https://www.minerba.esdm.go.id/berita/minerba/detil/20250626-konflik-israel-iran-mengancam-pasokan-energi-dunia-indonesia-perlu-siaga

Mela, A. (2026, April 3). Harga plastik naik, apa penyebabnya? Kompas. https://money.kompas.com/read/2026/04/03/081604326/harga-plastik-naik-apa-penyebabnya

Natalia Vega Varela and Nancy L. Cohen, “High Home Energy Costs Hit Women Hardest: Data Brief,” Gender Equity Policy Institute, August 2025. https://doi.org/10.5281/zenodo.16755675

Sarbaini, S., & Nazaruddin, N. (2023). Pengaruh kenaikan BBM terhadap laju inflasi di Indonesia. Jurnal Teknologi Dan Manajemen Industri Terapan, 2(I), 25-32.

 

Author : Irfan Nur Hidayat

 

 

 

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »