Remaja Berani Mengenal Dirinya Sendiri: Implementasi HHF Goes To Community di Pondok Pesantren Mardhotillah Krian Sidoarjo

Masa remaja merupakan fase penting dalam kehidupan seseorang karena di masa ini terjadi berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Namun, hingga saat ini pembahasan mengenai pubertas masih sering dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Banyak remaja merasa malu, bingung, bahkan kurang percaya diri ketika mulai mengalami perubahan pada tubuhnya.

Melihat kondisi tersebut, kami melalui program Health Heroes Facilitator Goes To Community berupaya menghadirkan ruang belajar yang aman dan ramah remaja. Kegiatan ini dilaksanakan pada 7 Mei 2026 di Pondok Pesantren Mardhotillah Krian, Kabupaten Sidoarjo bersama santri putra dan putri usia 10 hingga 19 tahun dengan mengangkat tema “Aku Remaja”. Tema tersebut dipilih untuk membantu remaja lebih memahami perubahan fisik pada masa pubertas sekaligus membangun rasa percaya diri selama proses pertumbuhan.

Pentingnya Edukasi Pubertas pada Remaja

Menurut World Health Organization, pubertas merupakan fase perkembangan biologis yang ditandai dengan perubahan hormonal, fisik, dan psikososial. Perubahan tersebut meliputi pertumbuhan tubuh, menstruasi, mimpi basah, perubahan suara, hingga perubahan emosi dan cara berpikir.

Sayangnya, kurangnya edukasi yang tepat membuat banyak remaja mencari informasi dari sumber yang belum tentu benar. Akibatnya, muncul rasa takut dan salah paham terhadap perubahan yang sebenarnya normal terjadi.

Menurut United Nations Children’s Fund, edukasi kesehatan reproduksi yang diberikan sejak dini dapat membantu remaja memahami tubuhnya sendiri, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu mereka membangun citra diri yang lebih positif.

Karena itu, edukasi pubertas menjadi penting untuk membantu remaja memahami bahwa setiap orang memiliki proses pertumbuhan yang berbeda dan semua perubahan tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan.

Belajar Mengenal Tubuh Lewat “Peta Diri”

Kegiatan dimulai dengan pengisian pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai pubertas dan kesehatan reproduksi remaja. Setelah itu, suasana kegiatan mulai semakin interaktif melalui sesi ice breaking menggunakan metode Peta Diri.

Sesi ini, kami menyediakan gambar anggota tubuh pada kertas HVS dan peserta diminta menempelkan sticky notes berisi perubahan fisik yang biasanya terjadi saat pubertas. Melalui metode tersebut, peserta tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar menyampaikan pendapat dan berdiskusi bersama teman-temannya.

Pendekatan ini membuat peserta lebih aktif dan berani berbicara. Materi mengenai perubahan fisik pada remaja laki-laki dan perempuan menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta.

Menurut penelitian dalam Journal of Adolescent Health, metode pembelajaran interaktif dan partisipatif mampu meningkatkan pemahaman remaja terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan metode ceramah satu arah. Diskusi terbuka juga membantu remaja merasa lebih nyaman dalam membahas perubahan tubuh dan emosinya.

Dari Malu Menjadi Berani

Salah satu momen paling berkesan selama kegiatan berlangsung adalah ketika peserta mulai berani maju ke depan untuk menyampaikan pendapatnya. Pada awal kegiatan, beberapa peserta masih terlihat malu dan saling menunjuk temannya untuk berbicara. Namun, seiring berjalannya sesi, suasana menjadi lebih cair dan peserta mulai percaya diri untuk menjelaskan hasil diskusinya di depan teman-teman lain.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan respon aktif selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengenai pubertas dan kesehatan reproduksi, hanya saja mereka membutuhkan ruang yang aman untuk belajar dan berdiskusi.

Selain membahas perubahan fisik, kegiatan ini juga mengajarkan bahwa masa pubertas tidak seharusnya membuat seseorang merasa minder terhadap dirinya sendiri. Setiap remaja memiliki proses tumbuh yang berbeda dan semua perubahan tersebut merupakan hal yang normal.

Membangun Remaja yang Lebih Percaya Diri

Melalui kegiatan HHF Goes To Community ini, kami berharap para remaja dapat memahami bahwa pubertas bukanlah hal yang perlu ditakuti ataupun disembunyikan. Mengenal diri sendiri, memahami perubahan tubuh, dan berani menyuarakan pendapat merupakan langkah awal untuk membangun remaja yang sehat, percaya diri, dan berdaya.

Karena pada akhirnya, remaja yang memahami dirinya sendiri akan lebih siap menghadapi proses pertumbuhan dan masa depannya.

Daftar Pustaka

World Health Organization. Adolescent Health and Development.

United Nations Children’s Fund. Early Adolescence: Physical and Emotional Changes.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi pada Remaja.

Viner, R. M., et al. (2022). Adolescence and the Social Determinants of Health. Journal of Adolescent Health.

Sawyer, S. M., et al. (2021). The Age of Adolescence. The Lancet Child & Adolescent Health.

Facebook
X
Threads
LinkedIn

satu Respon

  1. Fasilitator nya keren banget, semoga bisa semakin menyebar luas yaa HERWAY dan Rise Foundation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »