Ada ironi yang tidak pernah luput aku sadari setiap kali akan masuk ke ruang kelas: aku datang untuk membagikan sesuatu yang dulu pun tidak aku pahami dengan benar.
Tumbuh Besar Tanpa Peta
Aku tidak punya kenangan tentang percakapan terbuka di rumah tentang kesehatan reproduksi, khususnya menstruasi. Tidak ada orang tua yang duduk dan menjelaskan sebelum aku pertama kali mengalaminya. Tidak ada buku yang sengaja diletakkan di kamar untuk kubaca.
Aku hanya punya bisikan-bisikan dari teman sebaya, desas-desus informasi yang setengah-setengah, dan juga tidak ada sumber pembanding yang bisa dipercaya, semua sama validnya termasuk yang salah.
Ternyata, pengalamanku bukan pengecualian. Data menunjukkan bahwa kondisi ini jauh lebih luas dari yang kita bayangkan.
Data & Fakta Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia
- 54,9% remaja putri memiliki pengetahuan yang kurang tentang hak-hak kesehatan reproduksi
- 11,7% remaja Indonesia mengalami menstruasi tidak teratur, 14,9% di perkotaan
- 64,25% perempuan Indonesia mengalami nyeri menstruasi (dismenore), namun banyak yang tidak tahu cara menanganinya
Sumber: Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, Vol. 13 No. 2 (2022); Data Riskesdas dalam Amerta Nutrition, Vol. 8 (2024); Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (2021)
Yang Aku Percaya Bertahun-tahun Ternyata Salah
Ada satu keyakinan yang sangat kuat di lingkunganku waktu aku kecil: tidak boleh keramas saat menstruasi. Katanya bisa bikin kanker rahim, bisa membuat darah menstruasi mampet, dan bisa macam-macam yang tidak jelas asal-usulnya.
Aku percaya itu. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya di bangku kuliah aku menemukan fakta bahwa begitu luasnya mitos ini beredar di masyarakat. Aku merasa seperti seseorang yang baru menyadari bahwa peta yang selama ini kupegang tidak akurat, dan aku sudah terlalu jauh berjalan mengikutinya.

Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Semakin dewasa, aku semakin penasaran dengan pertanyaan yang lebih besar: mengapa informasi sesederhana ini tidak pernah sampai kepadaku dulu?
Aku bukan anak yang tidak bersekolah, bukan pula anak yang tidak punya akses informasi. Tapi di sekolah, pelajaran biologi hanya sebatas formalitas menuntaskan bab yang membahas menstruasi sebagai proses peluruhan dinding rahim, siklus dan hormon. Tidak pernah ada percakapan tentang bagaimana menjalaninya dengan sehat dan benar.
Di rumah, topik ini seperti ada di balik pintu yang tidak pernah dibuka, bukan karena dilarang, tetapi karena tidak ada yang tahu cara membukanya.
“Minimnya pengetahuan kesehatan reproduksi membuat remaja rentan terhadap berbagai risiko kesehatan. Padahal UU No. 17/2023 tentang Kesehatan telah mengamanatkan edukasi kesehatan reproduksi sebagai bagian dari Upaya Kesehatan Remaja, dan Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) sudah berjalan sejak 2003 — namun banyak remaja yang tidak tahu layanan ini ada dan bisa diakses.”
Sumber: KemenPPPA — Penelitian Persepsi Remaja tentang Kesehatan Reproduksi (2023)
Seharusnya, ada sistem yang menjangkau ku dan teman-teman remaja lainnya, tapi entah karena kurangnya sosialisasi, atau karena topik ini masih dianggap sensitif sehingga sistem tersebut tidak pernah benar-benar sampai. Dan jutaan remaja perempuan seperti aku dulu, tumbuh mengisi celah tersebut dengan apapun yang tersedia, seperti mitos, tebakan, bahkan keheningan yang terwarisi.
Hal-hal yang Aku Terlambat Pelajari
Ini bukanlah daftar yang kutulis dengan kebanggan. Aku menulis daftar ini dengan sedikit rasa sedih, untuk versi diriku yang lebih muda, yang seharusnya berhak mengetahui ini jauh lebih awal.
- Siklus menstruasi normal itu antara 21-35 hari, bukan tepat 28 hari
- Ganti pembalut bukan soal isi penuh, tapi soal waktu
- Stress bisa mempengaruhi siklus menstruasi
- Ada layanan kesehatan remaja yang bisa diakses gratis
Surat Untuk Remaja Muda Di Luar Sana
Kepada remaja yang berdiri kebingungan di toilet sekolah, remaja yang memilih memendam ketakutannya sendiri di dalam kamar, kamu tidak salah. Kamu tidak bodoh. Kamu hanya tidak diberi informasi yang menjadi hakmu.
Tubuhmu bukan sesuatu yang harus kamu sembunyikan, takuti atau abaikan sampai ada yang rusak. Tubuhmu adalah sesuatu yang layak kamu pahami, bukan karena kamu perempuan, tetapi karena kamu manusia yang berhak mengenal dirinya sendiri.
Kepada siapapun yang membaca tulisan ini dan merasakan hal yang sama, yang tumbuh dengan keheningan yang diwariskan, dengan mitos yang tidak pernah dipertanyakan, dengan pertanyaan yang tidak pernah punya tempat untuk ditanyakan:
Tidak ada kata terlambat untuk memulai tahu. Tidak ada pula yang memalukan dari tidak tahu, yang memalukan adalah sistem yang tidak memberitahumu ketika kamu seharusnya tahu.
Referensi
- Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, Vol. 13 No. 2 (2022). Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Hak Kesehatan Reproduksi.
- Soeroso, dkk. (2024). Scale-Up Perilaku Sehat Remaja Melalui Penguatan Posyandu Remaja dan Peer Educator. Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia.
- Kebidanan Alma Ata (2026). Manajemen Kebersihan Menstruasi. kebidanan.almaata.ac.id
- Wardani, dkk. (2021). Hubungan Siklus Menstruasi dan Usia Menarche dengan Dismenore Primer. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI).
- Fitri, dkk. (2024). Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi pada Mahasiswi di Depok, Indonesia. Amerta Nutrition, Vol. 8 No. 3SP.
- Muzakkir, S. (2025). Hubungan Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi. Midwifery Innovation Journal, Vol. 1 No. 1.
- KemenPPPA (2023). Persepsi Remaja mengenai Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Jiwa. kemenpppa.go.id
- Jurnal Kesehatan Tambusai (2023). Gambaran Usia Menarche dan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Keperawatan. journal.universitaspahlawan.ac.id




