Menghidupkan Edukasi Pangan Lewat Ruang Belajar yang Menyenangkan

Program Fasilitator Muda Frontiers for Health (F2H) membuka ruang bagi orang muda untuk terlibat langsung dalam edukasi Hak atas Pangan dan Gizi (HAPG) di masyarakat. Melalui program ini, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dasar tentang gizi, tetapi juga dilatih menjadi fasilitator yang mampu menyampaikan materi secara partisipatif kepada berbagai kelompok, mulai dari pelajar hingga komunitas ibu rumah tangga.

Salah satu fasilitator muda yang aktif dalam program ini adalah Dela, mahasiswa dengan latar belakang ilmu gizi. Dela bergabung setelah memperoleh informasi dari seorang temannya dan merasa relevan dengan bidang studinya. Di program ini, Dela merasa bisa untuk mempraktikkan ilmu yang selama ini dipelajarinya di kampus.

Sebelum terjun ke lapangan, Dela mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh tim F2H. Materi ajar yang ia terima mencakup dasar-dasar gizi dan pangan, konsep gizi seimbang, serta pemahaman HAPG sebagai hak dasar setiap individu. Pelatihan yang diikuti Dela juga menekankan bahwa akses terhadap pangan bergizi dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta melibatkan peran negara dan masyarakat dalam pemenuhannya.

Selain itu, dalam pelatihan Dela juga dibekali keterampilan fasilitasi, termasuk metode edukasi partisipatif dan teknik komunikasi yang kontekstual. Pembekalan ini bertujuan agar fasilitator mampu menyampaikan materi secara efektif dan tidak bersifat satu arah.

“Biasanya tanpa ada games atau apapun itu. Tapi ternyata saat kita menyampaikan materi itu gak harus ceramah selalu. Bisa juga diselipin sama games atau tanya-jawab yang membuat peserta itu jadi aktif juga. Jadi si pesertanya juga aktif, gak bosen, terus ngebuat materi yang kita sampaikan itu cepat paham dan menarik saat kegiatannya berlangsung.”

Di salah satu sesi pelatihan di sebuah sekolah SMP, Dela menerapkan pendekatan interaktif saat melakukan edukasi kepada peserta siswa. Ia menggunakan permainan, diskusi, serta simulasi sederhana agar materi yang disampaikan mudah dimengerti oleh setiap peserta.

Selain di sekolah, Dela juga terlibat dalam kegiatan edukasi di komunitas-komunitas. Ia menilai bahwa setiap kelompok memiliki karakter berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan juga perlu disesuaikan. Pada kelompok ibu-ibu, misalnya, ia menggunakan gaya komunikasi yang lebih ekspresif, sementara pada kelompok orang muda, diskusi santai dinilai lebih efektif.

“Kalau untuk ibu-ibu mungkin rata-rata harus agak heboh dikit. Harus kayak, ada tek-tokannya. Bisa membuat sesuatu menjadi dua arah. Kalau mereka sudah nyaman, mereka di-approach apapun juga oke.

Namun, Dela juga mengakui bahwa tantangan terbesar dalam edukasi gizi tidak hanya terjadi saat sesi berlangsung, melainkan pada tahap tindak lanjut. Tidak semua peserta langsung mengubah kebiasaan makan mereka. Karenanya, ia secara sukarela juga melakukan pendampingan lanjutan secara berkala serta memberikan afirmasi positif agar peserta tidak merasa dihakimi.

Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa persoalan pangan dan gizi berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini mendorongnya untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan, agar tetap realistis dan sesuai dengan situasi peserta.

Banyak faktor juga ya. Kalau misalnya ini tuh dari cerminan lingkungan sama kebiasaan juga, terus dari faktor ekonomi juga. Kita juga kan gak bisa menyalahkan. Makanya diadain forum diskusi itu, setidaknya memberikan informasi dan juga ilmu untuk orang-orang yang memang membutuhkan dan mulai aware akan hak atas pangan.

Dela berharap, program F2H dapat terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat. Menurutnya, perubahan tidak harus berlangsung secara besar dan instan, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »