Tahukah Sobat bahwa hampir satu dari empat siswa SMA berisiko mengalami eating disorder? Prevalensi eating disorder meningkat dua kali lipat di seluruh dunia dalam 18 tahun terakhir (Pusat Kesehatan Perempuan), dan tren ini juga berdampak di Indonesia. Di Indonesia, eating disorder menjadi masalah kesehatan yang semakin terlihat dan serius di kalangan orang muda. Namun, apa sebenarnya eating disorder, dan mengapa gangguan ini semakin umum di kalangan orang muda Indonesia?
Apa Itu Gangguan Makan/Eating Disorder?
Gangguan makan didefinisikan sebagai “masalah yang persisten terkait kebiasaan makan yang tidak sehat atau perilaku yang berkaitan dengan makanan, dimana dapat menyebabkan masalah fisik dan psikososial yang serius” (Mulyati 2025). Contohnya, perilaku eating disorder dapat mencakup diet ekstrem (di luar puasa), makan berlebihan, atau mekanisme koping yang merugikan terkait makanan. Eating disorder dapat mempengaruhi kesehatan fisik, psikologis, dan sosial, dan dapat menjadi begitu serius hingga dapat meningkatkan risiko kematian. Saat ini, eating disorder merupakan masalah serius dan semakin meningkat di Indonesia.
Prevalensi di Indonesia
Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Padjadjaran menemukan bahwa hingga 10% siswa Indonesia dari segala usia berisiko mengembangkan eating disorder, sementara hampir 22% perempuan berusia 15 hingga 19 tahun kesulitan mengelola jumlah makanan yang mereka konsumsi (Novita dkk. 2024). Studi lain menemukan fakta lain yang lebih tinggi, dengan sebuah studi di Kota Padang mengatakan bahwa satu dari empat siswa SMA di Padang berisiko mengalami eating disorder, menyoroti betapa umum masalah ini di kalangan remaja dan anak muda (Famelia dkk. 2022).
Gangguan makan paling umum terjadi pada remaja putri. Studi di seluruh dunia menunjukkan bahwa remaja putri secara statistik memiliki tingkat ketidakpuasan terhadap tubuh dan insiden eating disorder yang lebih tinggi. Di Indonesia, beberapa studi menemukan bahwa hampir sepertiga remaja putri berisiko terkena eating disorder (Famelia dkk. 2022). Namun, remaja laki-laki juga memiliki angka insiden eating disorder yang serupa, meskipun tingkat ketidakpuasan terhadap tubuh mereka sedikit lebih rendah.
Jelas bahwa ini adalah masalah yang semakin meningkat dan terutama menargetkan orang muda, tetapi mengapa hal ini semakin umum? Ditambah, tekanan budaya terhadap tubuh yang ramping dan ideal bukanlah hal baru. Hal ini bisa disebabkan oleh tekanan teman sebaya yang semakin meningkat dan paparan media.
Mengapa Eating Disorders Semakin Meningkat
Paparan media telah memainkan peran krusial dalam merusak citra tubuh pada orang muda akibat penggambaran standar kecantikan yang ditampilkan. Sebagian besar acara TV dan film menggunakan aktor yang sesuai dengan standar kecantikan tertentu. Misalnya, aktris seringkali memiliki tubuh kurus dan kulit terang, padahal di Indonesia terdapat berbagai jenis tubuh dan penampilan yang sehat dan beragam. Indonesia adalah negara yang sangat beragam, tetapi ketika sebagian besar media menggambarkan satu standar kecantikan, hal ini menyebabkan perbandingan yang tidak adil (Cicilia 2018). Itulah mengapa, menurut studi yang dilakukan oleh Dove dalam Laporan Kepercayaan Diri Kecantikan Indonesia 2017, “84 persen wanita Indonesia merasa tidak cantik.”

Selain standar kecantikan yang tidak adil dari media tradisional, media sosial juga berdampak negatif pada citra tubuh. Indonesia memiliki lebih dari 100 juta pengguna media sosial aktif (Novita dkk. 2024), terutama di kalangan generasi muda. Hal ini dapat merugikan karena menampilkan satu jenis standar kecantikan, mengabaikan keragaman kecantikan Indonesia. Selain itu, foto-foto sering diedit hingga sempurna, menciptakan standar yang tidak realistis.
Namun, meskipun standar kecantikan seringkali tidak realistis atau tidak mungkin, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan standar tersebut tetap ada. Tekanan ini diciptakan, baik secara sengaja maupun tidak, oleh teman sebaya. Prediktor statistik terkuat untuk perkembangan eating disorder pada remaja adalah pengaruh teman sebaya. “Remaja yang terpengaruh oleh teman sebaya memiliki risiko 2,5 kali lebih tinggi untuk mengembangkan eating disorder dibandingkan dengan yang tidak terpengaruh oleh teman sebaya” (Famelia dkk. 2022).
Apa yang Dapat Sobat Lakukan
Seiring dengan meningkatnya eating disorder di kalangan remaja Indonesia akibat tekanan teman sebaya dan media sosial, penting untuk memikirkan bagaimana setiap orang dapat membantu. Dalam upaya mengubah budaya yang merusak, suara setiap orang sangat dibutuhkan.
Jadi, apakah Sobat atau orang terdekat Sobat mengalami eating disorder, apa hal yang secara spesifik dapat Sobat lakukan untuk membantu?
- Waspadai tanda-tandanya. Jika Sobat melihat seseorang menjalani diet ekstrem, melewatkan makan (di luar puasa), atau secara konsisten mengeluhkan ketidakpuasan terhadap tubuhnya, hal ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami kesulitan. Mengenali tanda-tanda ini dan membicarakannya dengan orang terdekat dapat menjadi langkah penting dalam menangani eating disorder sebelum gangguan tersebut berkembang.
- Pikirkan dua kali sebelum membandingkan. Saat melihat gambar orang di media sosial, pikirkan dua kali sebelum membandingkan diri Sobat atau orang lain dengan mereka. Influencer mengontrol segala hal tentang penampilan mereka: ingatlah bahwa foto-foto tersebut bisa diedit, tidak realistis, atau hanya menampilkan satu jenis kecantikan.
- Tantang Perspektif Teman Sebaya. Meskipun tidak dimaksudkan dengan niat jahat, lelucon kecil tentang berat badan atau penampilan seseorang dapat sangat merugikan kesehatan mental mereka dan dapat memicu eating disorder. Menegur perilaku ini atau menghibur orang-orang yang mengalami perundungan atau pelecehan sangat penting dalam mencegah eating disorder.
- Dukung kesadaran dan pendidikan. Dengan menyebarkan kesadaran tentang masalah ini, hal ini dapat membantu orang atau orang terdekat mereka mengenali eating disorder sebelum menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Mendidik orang lain tentang masalah ini dapat memudahkan dan mempermudah kerja sama antara sekolah, keluarga, dan dokter saat membahas eating disorder.
Orang muda Indonesia bukanlah satu-satunya yang menghadapi masalah ini. Secara global, pengaruh media dan tekanan sosial menyebabkan peningkatan eating disorder di kalangan remaja. Ini adalah masalah serius yang memerlukan tanggapan komprehensif, dan ini merupakan tanggung jawab kita semua.
Perubahan budaya ini dimulai dari tindakan sehari-hari. Setiap orang, tanpa memandang penampilan atau latar belakang mereka, harus menantang komentar-komentar merugikan tentang berat badan, mempromosikan standar tubuh yang sehat, dan menciptakan lingkungan yang aman untuk membahas kesehatan mental. Kita perlu bersuara, mendukung teman-teman kita, dan menolak untuk menormalisasi standar kecantikan yang toksik. Dengan menggabungkan pendidikan, dukungan kesehatan mental, dan kesadaran budaya, kita dapat menciptakan dunia di mana setiap orang dapat merasa cantik.
*Jika pembahasan dalam artikel ini mengenai citra tubuh atau eating disorder menimbulkan kekhawatiran bagi Sobat atau orang terdekat, beberapa sumber dukungan telah disertakan di bawah ini.
Sumber daya:
https://sejiwa.org/helpline-bersamamu/
https://www.seributujuan.id/en/eating-disorders#treatment-options
https://indonesiasehatjiwa.com/en/home/
https://www.siloamhospitals.com/en/informasi-siloam/artikel/symptoms-and-types-of-eating-disorders
Sumber:
Cicilia, Maria. “84 Persen Wanita Indonesia Merasa Tidak Cantik.” Antara News, ANTARA, 25 Sept. 2018, www.antaranews.com/berita/751739/84-persen-wanita-indonesia-merasa-tidak-cantik.
Famelia, Welly, dan Nadia Chalida Nur. “Pengaruh Teman Dan Hubungannya Dengan Risiko Gangguan Makan Pada Remaja.” Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 28 Mar. 2022.
Mulyati, Sri. “Recognize the Symptoms and Types of Eating Disorders.” Rumah Sakit Dengan Pelayanan Berkualitas – Siloam Hospitals, 18 July 2025, www.siloamhospitals.com/en/informasi-siloam/artikel/symptoms-and-types-of-eating-disorders.
Novita, Shally, and Asteria Devy Kumalasari. “Social Media Fuels Unhealthy Beauty Standards among Indonesian Teens.” 360, 11 June 2024, 360info.org/social-media-fuels-unhealthy-beauty-standards-among-indonesian-teens/#:~:text=This%20information%20does%20not%20constitute%20medical%20advice,Indonesia%20reported%20some%20dissatisfaction%20with%20their%20appearance .
“Center for Women’s Health.” OHSU , www.ohsu.edu/womens-health/why-are-eating-disorders-rise . Accessed 10 Mar. 2026.





