Dunia Doomscrolling: Ketika Ruang Digital menjadi Sumber Stress, Bukan Solusi

Doomscrolling

https://pin.it/MgSdEX7Lo on pinterest

 

Pernahkah Kamu membuka HP hanya untuk “mengecek sebentar”, tapi justru beberapa jam kemudian masih terjebak menggulir berita buruk yang silih berganti? Itulah doomscrolling. Fenomena doomscrolling telah mengubah ruang digital yang seharusnya menjadi sarana koneksi dan solusi, menjadi pusaran stres. Doomscrolling adalah kebiasaan tanpa sadar terus-menerus menggulir (scrolling) layar ponsel untuk menelusuri atau membaca berita dan konten di media sosial, meskipun konten tersebut menimbulkan rasa sedih, cemas, atau depresi

Hal yang membuat doomscrolling berbahaya adalah sifatnya yang adiktif. Algoritma media sosial tahu persis bahwa berita negatif, kemarahan, dan ketakutan paling kuat mudah mengikat perhatian kita. Semakin kita scroll, semakin dalam kita masuk ke lingkaran stress tak berujung.

Berdasarkan survei dan penelitian Jurnal Konseling Indonesia sebanyak 82,3% remaja minimal empat kali seminggu dengan durasi rata-rata 45 menit per sesi. Remaja menyatakan bahwa mereka menggunakan internet secara terus menerus untuk mengakses platform media sosial.

 

Pengalaman Menghadapi Kebiasaan Doomscrolling tak Berujung

Aku pernah terjebak dalam lingkup Doomscrolling. Saat bangun tidur, hal yang pertama aku buka saat itu adalah media sosial guliran cepat. Berita yang cepat masuk, konten implusif yang singkat, seolah membuat aku merasa tidak mudah puas. Membuka, mencari, menonton, menggulir, begitu saja terus yang kulakukan untuk mendapatkan “kepuasan” dalam tontonanku.

Awalnya aku mengira, bahwa mengakses media sosial adalah salah satu cara aku bisa terbebas dari penatnya dunia. Namun, semakin lama, ternyata kepenatan itu, justru aku temukan setelah mengakses media sosial. Penerimaan konten cepat serta berita negatif dan buruk yang bertebaran di media sosial, seolah menjadi bagian dari pikiranku. Yang seharusnya tempat yang kuanggap “nyaman” dan “bebas”, sekarang justru menjadi bagian dari pikiranku.

Rasa tidak nyaman namun mengikat itu, seolah menghantuiku. Aku merasa takut, cemas, dan mudah terpancing emosi. Dari timbulnya efek samping itu, aku mulai memberanikan diri untuk bercerita akan kesulitanku ke orangtua, serta teman. Aku sendiri mulai mencari cara untuk lepas dari lingkaran doomscrolling, dengan membatasi penggunaan ponselku tiap hari.

 

Mengapa Remaja Rentan Mengalami Doomscrolling?

Berdasarkan penelitian dari EMC Health, remaja mudah mengalami fenomena doomscrolling karena kombinasi dari perkembangan otak yang belum matang, sensitivitas emosional yang tinggi, dan algoritma media sosial yang terlalu eksploitatif.

Selain itu, algoritma media sosial dirancang untuk membuat pengguna terus melihat konten tanpa henti. Ketika seseorang menonton satu konten negatif, aplikasi akan merekomendasikan konten serupa secara terus-menerus. Akibatnya, pengguna semakin tenggelam dalam informasi yang melelahkan mental.

Rasa penasaran juga membuat banyak remaja sulit berhenti scrolling. Mereka merasa harus selalu mengetahui berita terbaru agar tidak tertinggal informasi atau tren yang sedang viral.

“Ilustrasi Fenomena Doomscrolling pada Remaja”

https://pin.it/1pJLOvbuV on pinterest

 

Dampak Doomscrolling pada Remaja 

1. Meningkatnya kecemasan dan stress

Terus menerus terpapar konten dan berita negatif dapat memicu pelepasan hormon stress seperti hormon kortisol dan adrenalin dalam tubuh. Sehingga setelah menikmati konten dan berita negatif, tubuh terasa tegang, pusing, sakit kepala dan lelah.

2. Penurunan fungsi kognitif

Menikmati konten negatif, dapat menggangu fingsi kognitif dalam otak, seperti kesulitan berkonsentrasi, gangguan daya ingat, dan menurunnya produktivitas dalam aktivitas sehari-hari.

3. Penurunan kualitas tidur

Cahaya biru (blue light) yang terpapar saat menggunakan ponsel dan lonjakan adrenalin membuat otak tetap aktif, sehingga memicu terjadinya insomnia.

 

Cara Terlepas dari Jerat Doomscrolling 

1. Hindari penggunaan ponsel 30 menit setelah bangun

Batasan lonjakan adiktif dan dopamin cepat di pagi hari dapat membantu tubuh lebih nyaman dipagi hari

2. Kelola notifikasi

Gunakan mode “jangan ganggu” dalam ponsel anda untuk terlepas dari notifikasi yang mudah mengganggu fokus.

3. Ganti dengan kebiasaan positif

Mengganti kebiasaan scrolling pada media sosial, dengan kegiatan yang lebih positif, seperti membaca, menulis, berjalan sambil menghirup udara segar, berolahraga ringan, melukis, dan beberapa kegiatan positif lainnya.

4. Batasi penggunaan aplikasi

Atur setiap aplikasi dengan timer aplikasi yang ada pada pengaturan, untuk membatasi penggunaan aplikasi. Anda juga bisa menghapus aplikasi yang jarang digunakan, serta aplikasi yang membuat anda terus terjebak dalam doomscrolling.

 

Doomscrolling mungkin terlihat seperti kebiasaan yang sederhana, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus, doomscrolling dapat memberikan dampak yang nyata terhadap kesehatan mental, produktivitas, dan kualitas hidup remaja.

Di era digital yang penuh arus informasi, penting bagi remaja untuk memiliki kesadaran dalam menggunakan media sosial dan mengelola konsumsi berita secara bijak. Dengan membatasi waktu layar, mengelola notifika, serta menyeimbangkan aktivitas digital dengan kegiatan di dunia nyata, remaja dapat tetap memperoleh informasi tanpa terjebak dalam lingkaran doomscrolling.

Pada akhirnya, ruang digital seharusnya menjadi tempat komunikasi dan solusi, bukan tempat sumber stress baru bagi kehidupan.

 

Referensi

  1. source: Halodoc https://l1nq.com/kqiga37
  2. Doomscrolling dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental – Fakultas Psikologi https://l1nq.com/r201a9k

 

 

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »