Hari Kesehatan Mental Sedunia (World Mental Health Day) 2026 yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2026 menjadi saat yang tepat untuk melihat kembali tentang betapa pentingnya kesejahteraan psikologis setiap individu. Pada tahun 2026 Hari Kesehatan Mental Sedunia dikampanyekan dengan fokus betapa pentingnya mendengarkan mereka yang mengalami langsung masalah kesehatan mental.
Berdasarkan postingan dari WHO yang berjudul World Mental Health Day 10 October 2026 Lived experiences heard: real voices, real change, Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun ini membawa tema pelibatan bermakna dari orang-orang dengan pengalaman langsung.
Tujuannya agar mereka yang memiliki pengalaman langsung ini tidak hanya sekedar menjadi pencerita pasif, tapi juga terlibat aktif untuk membentuk kebijakan, merancang layanan, dan menantang stigma di masyarakat. Hal ini didasarkan pada keadaan saat ini dimana tantangan kesehatan mental masih sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti modernisasi dan teknologi.
Contoh di eropa, berdasarkan artikel “World Mental Health Day: let’s talk and listen” yang diterbitkan oleh Directorate-General for Communication Uni Eropa, kecemasan dan depresi adalah gangguan mental paling umum yang terjadi saat ini, bahkan pada 2023 hampir separuh dari penduduk Eropa menyatakan pernah mengalami masalah emosional atau psikologis yang berdampak pada ranah keuangan mereka.
Hal ini disebabkan dari tekanan di dunia digital dan media sosial yang memang didesain sangat adiktif, terutama bagi anak-anak. Untuk mengatasi ini berdasarkan Directorate-General for Communication, Uni Eropa telah mengusulkan “EU KIDS Act” pada bulan September 2026. Ini adalah proposal hukum yang bertujuan mencegah akses platform media sosial oleh anak-anak di bawah usia 13 tahun serta menetapkan aturan usia minimum di seluruh Uni Eropa.
Di Indonesia sendiri masalah kesehatan mental bukan hanya sekedar ada dalam lingkup individual. Berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2023, gangguan jiwa menempati posisi kedua sebagai penyebab terbesar Years Lived with Disability (YLD) di Indonesia.
Terus juga, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Ditambah untuk kasus depresi, baru 12,7 persen penderita yang menerima pengobatan. Artinya, hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum tersentuh penanganan medis.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Kesehatan (kemkes) memperluas jangkauan layanan kesehatan jiwa hingga ke pelayanan kesehatan primer. Seperti 6.549 puskesmas atau 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia sudah bisa memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Ditambah telah dilakukan juga layanan skrining kesehatan jiwa terhadap 71,86 juta penduduk berusia di atas 7 tahun. Selain itu, ada juga layanan healing119.id yang sudah diakses oleh 284.916 pengguna.
Ditengah upaya tersebut, masih ada tantangan yang menghambat, seperti pamasungan, keterlambatan penemuan kasus, dan penolakan atau denial dari orang tua, khususnya untuk penderita neurodivergent.
Baca juga: Squishy Sarana Pelepas Stres Kalangan Pelajar
Dari sini bisa kita maknai bahwa persoalan kesehatan mental bukan hanya sekedar cerita tetapi juga masalah nyata yang alami oleh banyak orang. Harapannya dengan diperingatinya Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, bukan hanya keluarga, tenaga kesehatan, ataupun sekolah, tetapi juga mereka yang mengalami masalah mental ikut dalam penentuan langkah-langkah pencegahan sederhana di komunitas lokal, sampai perumusan kebijakan yang efektif. Karena semua itu merupakan hal-hal penting dalam membangun masyarakat yang jauh lebih sehat secara mental dan fisik.



