Program Fasilitator Muda F2H membuka kesempatan bagi orang muda dari berbagai latar belakang untuk terlibat dan belajar dalam isu Hak atas Pangan dan Gizi. Salah satunya adalah Irvan, fasilitator muda dengan latar belakang pendidikan di luar bidang gizi, yaitu multimedia dan bahasa. Ketertarikannya untuk bergabung dengan F2H muncul dari keinginannya mempelajari hal baru yang sebelumnya tidak pernah ia dalami.
Sebelum terjun ke lapangan, Irvan mengikuti pelatihan dasar yang membekalinya dengan pengetahuan gizi, konsep Hak atas Pangan dan Gizi, serta teknik memfasilitasi kelas. Dalam proses ini, ia ditempatkan dalam satu tim bersama mahasiswa gizi, sehingga ia dapat belajar sambil mempraktikkan materi secara langsung. Bagi Irvan, pengalaman ini menjadi pintu masuk untuk memahami isu gizi dari sudut pandang yang lebih luas.
Belajar Menghadapi Realitas di Lapangan
Selama menjalani peran sebagai fasilitator muda, Irvan banyak berhadapan dengan dinamika masyarakat yang beragam. Salah satu tantangan terbesar yang ia rasakan adalah persepsi bahwa orang muda sering kali dianggap “belum cukup pengalaman” untuk memberikan edukasi, terutama kepada orang tua atau ibu-ibu. Tantangan ini menuntutnya untuk lebih adaptif dalam bersikap dan berkomunikasi.
Irvan menyadari bahwa membangun penerimaan masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan. Ia memilih pendekatan yang lebih santai, terutama saat berhadapan dengan orang muda. Melalui gaya penyampaian yang cair dan humor ringan, ia berusaha menempatkan dirinya sebagai bagian dari peserta, bukan sebagai pengajar yang menggurui.
Dalam sesi edukasi, Irvan sering menggunakan interaksi dua arah untuk menghadapi peserta yang terlihat pasif atau kurang fokus. Ia menyadari bahwa pendekatan yang lebih dekat dan santai jauh lebih efektif dibandingkan cara penyampaian yang terlalu formal. Dari pengalaman ini, Irvan menjadi lebih peka dalam membaca suasana kelas dan memahami karakter peserta.
Interaksi dua arah yang ia lakukan misalnya dengan mengajukan pertanyaan sederhana seputar kebiasaan makan sehari-hari, mengajak peserta berbagi cerita, atau menanggapi jawaban mereka dengan contoh yang mudah dipahami. Ia juga kerap mendekati peserta yang terlihat diam, menyapa secara langsung, atau mengubah sesi menjadi diskusi kecil dan permainan ringan. Cara ini membuat peserta merasa lebih nyaman, terlibat, dan berani untuk ikut berpartisipasi.
Kreativitas Orang Muda sebagai Kunci Perubahan
Irvan juga melihat bahwa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap isu gizi menjadi tantangan tersendiri. Irvan melihat bahwa membangun kesadaran masyarakat terhadap isu gizi membutuhkan pendekatan yang kreatif dan kontekstual. Ia menyadari bahwa partisipasi sering kali tumbuh ketika masyarakat merasa diperhatikan dan difasilitasi dengan baik, misalnya melalui penyediaan konsumsi, dukungan transportasi, atau bentuk apresiasi sederhana. Bagi Irvan, upaya-upaya ini bukan sekadar insentif, melainkan pintu masuk untuk menciptakan ruang interaksi, menumbuhkan ketertarikan, dan mendorong keterlibatan yang lebih berkelanjutan.
Sebagai orang muda, Irvan percaya bahwa kreativitas adalah modal penting dalam edukasi pangan. Fleksibilitas, energi, dan kemampuan beradaptasi membuat orang muda dapat menjangkau berbagai kelompok usia. Ia juga merasakan dampak langsung dari program F2H pada gaya hidup pribadinya, seperti menjadi lebih sadar terhadap porsi makan, konsumsi gula, dan pentingnya sayur dalam menu harian.
Bagi Irvan, peran orang muda dalam isu pangan tidak hanya berhenti pada edukasi, tetapi juga sebagai agen perubahan jangka panjang. Ia berharap program F2H dapat terus diperluas jangkauannya dan bekerja sama dengan lebih banyak pihak, seperti sekolah, desa, dan puskesmas, agar dampak yang dihasilkan semakin kuat dan berkelanjutan.
Sebagai penutup, Irvan menggambarkan F2H dalam tiga kata: asik, menarik, dan bermanfaat. Baginya, program ini bukan hanya ruang belajar, tetapi juga proses pembentukan peran orang muda yang mampu hadir, diterima, dan berkontribusi nyata dalam membangun kesadaran pangan dan gizi di masyarakat.
Pengalaman Irvan sebagai Fasilitator Muda F2H menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari latar belakang yang linear, melainkan dari kemauan untuk belajar dan keberanian untuk terlibat. Dari proses pelatihan hingga menghadapi dinamika masyarakat, Irvan membuktikan bahwa orang muda mampu mengambil peran strategis dalam isu Hak atas Pangan dan Gizi ketika diberi ruang, kepercayaan, dan pendampingan yang tepat. Ceritanya menjadi refleksi bahwa kehadiran orang muda bukan sekadar pelengkap program, tetapi bagian penting dari gerakan kolektif untuk menciptakan masyarakat yang lebih sadar, sehat, dan berdaya.





