Pernahkah kamu merasa bahwa apa yang kamu lakukan sekarang terus terasa kurang? Nilai bagus, tapi belum cukup sempurna. Berusaha maksimal, tapi hasil tidak memuaskan. Atau perasaan sering membandingkan diri dengan orang lain, hingga lupa seberapa jauh kamu sudah mulai bertumbuh?
Tanpa disadari, banyak remaja tumbuh dengan tuntutan menjadi yang terbaik. Media sosial penuh dengan pencapaian, prestasi, bahkan kehidupan yang sempurna. Di sekolah, penuh dengan persaingan prestasi dan nilai. Di lingkungan, kita ingin diterima, dibanggakan, dan dianggap paling terbaik. Perlahan semuanya itu berubah menjadi tekanan yang kita berikan pada diri sendiri
Aku pernah berada di fase ini. Fase ketika aku merasa aku tidak boleh gagal, tidak boleh mengecewakan siapapun, dan harus selalu tampak kuat dan sempurna. Aku pikir, jika aku memaksa diriku dan berusaha lebih keras, semuanya akan berjalan baik dan sesuai harapan. Tetapi, aku lupa bahwa manusia juga punya batas untuk merasa lelah
Ketika Semua Terasa Tidak Akan Pernah Cukup
Apa kalian pernah mendengar soal lagu “Never Enough” karya Loren Allred? Lagu itu persis sekali menggambarkan pikiranku saat itu. Ada masa ketika aku selalu mengejar kesempurnaan. Membuat target di luar batas kemampuanku, setiap kali aku berhasil menggapainya, bukan merasa bangga dan merayakannya, aku justru membuat target baru yang lebih tinggi
Ketika yang aku harapkan tidak sesuai, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Aku juga sulit menerima bahwa kesalahan adalah hal yang wajar. Aku mulai membandingkan diri dengan orang lain, hingga aku lupa bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda
Lama kelamaan, aku mulai merasa lelah dan capek. Bukan karena tugasku yang terlalu banyak, tapi karena pikiran dan target yang terus menghakimiku.
Aku Mulai Menjadiu Musuh bagi Diriku Sendiri
Yang paling melelahkan bukan komentar orang lain. Melainkan suara dan tekanan harapan yang terus berada dalam pikiranku sendiri
“Kenapa aku tidak bisa lebih baik dari ini?”
Aku menjadi orang yang paling keras dan kasar dalam menilai diriku sendiri.
Aku jarang memberikan penghargaan atas usaha yang sudah kulakukan. Sebaliknya, aku terus fokus pada kekurangan. Sampai akhirnya aku sadar, bahwa aku memperlakukan diriku dengan cara yang tidak akan pernah kulakukan pada orang lain
Belajar Berdamai dengan Diri Senriri
Aku belajar bahwa nilai bagus dan kesempurnaan bukan lah sebuah titik akhir keberhasilan. Aku belajar bahwa aku tidak perlu sempurna untuk menjadi berharga dan bahagia. Aku mulai paham bahwa istirahat bukan berarti aku merusak dan menunda keberhasilan, melainkan bentuk kesempatan bagi diri sendrii untuk sembuh.
Daripada berkata “Aku tidak cukup” aku mulai berkata “Ini aiu sedang belajat untuk menjadi lebih baik”
Perubahan itu memang tidak mungkin terjadi dalam semalam. Tentu saja, masih ada hari dimana aku kembali menyalahkan diriku sendiri. Namun, kini aku paham bahwa aku tidak harus selalu sempurna unruk membuatku pantas dihargai.
Hal yang Aku Pelajari
Pengalaman ini membuatku lebih disipin. Disiplin membantu membuat kita berkembang,. Sebaliknya keras pada diri sendrii hanya akan membuat kita terus merasa bersalah dan lelah.
Aku juga belajar bahwa setiap orang punya prosesnya masing masing. Tidak ada gunanya membandingkan langkah pertama dalam hidup kita dengan langkah keseratus milik orang lain.
Yang paling penting adalah aku belajar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan keberhasilan. Tidak ada pencapaian yang sepadan jika harus dibayar dengan hilangnya kebahagiaan diri sendiri.
Jika Kamu Sedang Mengalaminya
Jika hari ini kamu merasa belum cukup baik, cobalah untuk mulai berhenti sejenak. Lihat kembali sejauh apa kamu sudah melangkah. Ingatlah bahwa setiap usaha yang kamu lakukan memiliki arti, meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
Tidak apa-apa jika kamu gagal hari ini. Tidak apa-apa jika kamu mulai merasa lelah. Tidak apa-apa jika kamu membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Yang terpenting adalah jangan menjadi orang yang paling kejam pada dirimu sendiri.
Meskipun kini aku masih memiliki target dan impian yang ingin dicapai. Namun, aku tidak lagi mengejarnya dengan terus menyakiti diriku sendiri.
Aku ingin berprestasi, tetapi juga ingin tetap bahagia. Aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku sendiri, bukan versi yang sempurna bagi dunia ini
Karena pada akhirnya, perjalanan menuju impian seharusnya bukan cuma mencapai tujuan, tetapi juga belajar mencintai diri sendiri dan menghargai setiap prodes di setiap langkah yang kita tempuh.
(maaf kalau jatuhnya kaya curhat, pure isi otak, hati, dan batin)




