Titik Balik dalam Memahami Pangan Lokal
Perjalanan ke Filipina menjadi titik balik bagi saya dalam memahami makna pangan lokal. Bukan hanya sebagai konsumsi sehari-hari, tetapi sebagai identitas, cerita, dan ruang kolaborasi orang muda. Pengalaman ini justru membawa saya pada satu pertanyaan besar: sudah sejauh apa saya berkontribusi terhadap pangan lokal di kota saya sendiri?
Eksplorasi Budaya dan Pangan Selama di Filipina
Interaksi dan Pembelajaran Lintas Negara
Perjalanan ke Filipina yang awalnya saya bayangkan hanya sebagai ruang belajar lintas budaya, justru berubah menjadi ruang refleksi yang sangat personal. Perjalanan itu juga menjadi pengalaman pertama saya ke luar negeri. Rasanya campur aduk antara antusias, gugup, dan penuh rasa ingin tahu.
Selama hampir satu pekan berkegiatan di sana, saya banyak mengeksplorasi hal-hal baru. Tidak hanya tentang budaya dan kebiasaan masyarakat setempat, tetapi juga tentang bagaimana negara lain memandang pangan sebagai identitas, bukan sekadar kebutuhan.
Saya belajar banyak dari interaksi dengan delegasi negara lain, sekaligus memperkuat kerja sama tim dengan teman-teman delegasi Indonesia yang sama-sama datang membawa cerita dari daerah masing-masing.
Berbagi Pangan Lokal Indonesia
Salah satu momen paling berkesan selama di Filipina adalah ketika saya mendapat kesempatan membawakan sesi perkenalan pangan lokal dari daerah asal saya. Dalam sesi itu, saya memperkenalkan cilok, makanan khas Jawa Barat, yang sebenarnya merupakan inisiatif program sahabat saya, Melani Sofyan Putri.
Ia mengembangkan konsep cilok berbahan olahan bayam dengan isian ayam sebagai upaya menekan angka anemia di kalangan remaja, melalui camilan yang ramah di lidah, ekonomis, dan berdampak gizi baik. Ide ini sederhana, tetapi punya kekuatan besar karena menyasar kebiasaan makan remaja dengan pendekatan yang relevan.

Penyesuaian untuk Perjalanan Internasional
Saat membawanya ke Filipina, saya melakukan sedikit penyesuaian. Selain bahan baku yang saya fokusnya dari bahan lokal berupa sagu dan tapioka saja, cilok yang saya bawa dari Depok dalam kondisi beku karena perjalanan cukup panjang. Saya akhirnya membuat versi cilok bayam tanpa isian ayam, lalu menyajikannya dengan bumbu kacang khas Indonesia.
Respons dan Dampak
Di luar dugaan, respons mereka sangat hangat. Banyak yang mengatakan ini makanan yang unik dan rasanya enak. Bahkan, saat sesi uji coba gratis, beberapa dari mereka mengatakan bahwa jika cilok ini dijual, mereka akan dengan senang hati membelinya.
Mereka menyukai teksturnya yang mengenyangkan, bentuknya yang sederhana tetapi kaya akan rasa, terutama sensasi pedas dari bumbu kacang yang menurut mereka “nampol”, sesuatu yang tidak biasa mereka temui karena banyak makanan di negara mereka cenderung manis atau sangat asin.
Akhirnya saya dapat melihat bagaimana satu makanan sederhana bisa menjadi jembatan budaya yang sangat kuat.
Lingkungan Suportif dan Kesempatan yang Setara
Ruang yang Aman untuk Pemuda
Selain pengalaman berbagi pangan antar negara, hal lain yang membekas bagi saya adalah suasana lingkungan yang sangat suportif. Menjadi delegasi termuda dari Indonesia tidak pernah membuat saya khawatir akan diperlakukan berbeda.
Saya diberikan ruang yang sama untuk berbicara, kesempatan yang setara untuk berbagi, dan kepercayaan penuh untuk membawakan sesi saya sendiri. Tidak ada diskriminasi, tidak ada batasan karena usia.
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa lingkungan yang sehat dan suportif sangat berpengaruh dalam membentuk rasa percaya diri seseorang.
Saya ingat betul bagaimana awalnya saya merasa ragu saat akan memulai sesi. Saya khawatir cara penyampaian saya sulit untuk diterima. Namun, yang saya temukan justru sebaliknya. Teman-teman dari Indonesia maupun peserta dari negara lain menyambut sesi saya dengan hangat.
Sambutan yang begitu terbuka, antusias, dan benar-benar menghargai setiap cerita yang dibagikan. Saya kembali belajar bahwa percaya pada diri sendiri sering kali lebih penting daripada mencoba terlihat sempurna.
Pengalaman ini bukan hanya memperluas cara pandang saya tentang pangan dan budaya, tetapi juga menguatkan keyakinan bahwa orang muda memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan warisan pangan lokal.
Ketika diberikan ruang yang aman dan kesempatan yang setara, pemuda mampu membawa cerita dari daerahnya bahkan hingga ke percakapan global dengan cara yang relevan dan membanggakan.
Pertanyaan Besar setelah Perjalanan
Sepulang dari Filipina, ada satu perasaan yang terus mengganggu pikiran saya. Bukan rasa puas karena berhasil berangkat ke forum internasional, tapi justru pertanyaan sederhana yang terasa menohok kepada diri saya sendiri.
Kalau saya bisa berbicara tentang pangan lokal Indonesia di luar negeri, lalu apa yang sudah saya lakukan untuk pangan lokal di kota tempat saya sendiri tinggal?
Realitas Pangan Lokal Depok
Sejatinya, Depok adalah kota yang tumbuh dengan cepat. Gedung terus bertambah, kafe aesthetic nan vintage baru bermunculan, pilihan makanan semakin beragam. Namun di tengah perkembangan itu, saya mulai sadar bahwa kita jarang benar-benar mengenal pangan lokal yang ada di sekitar kita.
Kita makan, tapi tidak selalu tahu asalnya. Kita menikmati, tapi tidak selalu memahami ceritanya. Kesadaran itu membuat saya merasa ada jarak antara apa yang saya perjuangkan di forum internasional dan realitas di rumah saya sendiri. Padahal, perkotaan bukan jaminan bahwa daerah tersebut tidak memiliki pangan lokal yang perlu diperkenalkan kepada masyarakatnya.
Pentingnya Kesadaran dan Ruang Belajar
Pengalaman selama di Filipina membuka mata saya bahwa pangan bukan hanya tentang konsumsi. Pangan adalah identitas, memori, bahkan bentuk perlawanan terhadap perkembangan zaman yang membuat kita nyaris lupa.
Di sana saya melihat bagaimana komunitas lokal begitu bangga dengan bahan pangan mereka, bagaimana pemudanya mau turun tangan untuk melestarikan, dan bagaimana cerita tentang makanan bisa menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Saya mulai kembali bertanya ke diri sendiri. Kenapa hal yang sama belum terasa kuat di tempat saya lahir dan tumbuh?
Kegelisahan itu tumbuh bukan tentang ingin terlihat berdampak, namun lebih ke dorongan personal yang sulit diabaikan. Saya merasa tidak adil jika pengalaman yang saya dapat berhenti sebagai cerita pribadi.
Harus ada sesuatu yang tumbuh dari sana, sesuatu yang kembali ke tanah tempat saya berasal.
Saya juga sadar bahwa membangun kesadaran itu tidak bisa instan. Tidak bisa langsung bicara pelestarian kalau orangnya sendiri belum merasa dekat. Tidak bisa bicara keberlanjutan kalau pengetahuannya belum terbentuk.
Maka yang paling masuk akal untuk saya adalah bukan dengan langsung membuat gerakan besar, tapi menciptakan ruang belajar yang aman, setara, dan relevan untuk pemuda Depok mengenal pangannya sendiri.
Langkah Awal: Membuat Ruang Belajar
Di titik itu, fokus saya bergeser menjadi satu hal sederhana. Bukan dengan cara impulsif membuat gerakan besar, tapi menciptakan ruang belajar yang aman, setara, dan relevan untuk pemuda: bagaimana caranya kesadaran tentang pangan lokal ini tidak berhenti di saya, bagaimana caranya supaya ada lebih banyak pemuda yang merasa bahwa isu ini juga milik mereka, milik kita bersama.
Karena kalau ada satu simpulan dari apa yang saya pelajari dari perjalanan ini, ialah perubahan yang tidak selalu dimulai dari sistem yang besar. Kadang, perubahan dimulai dari percakapan kecil yang konsisten, dari rasa ingin tahu yang dipelihara, dan dari keberanian untuk mulai, meski belum tahu bentuk akhirnya akan seperti apa.






