Belajar, Hadir, dan Berdampak: Cerita Irvan sebagai Fasilitator Muda F2H

Belajar

Program Fasilitator Muda F2H membuka kesempatan bagi partisipasi orang muda dari berbagai latar belakang untuk terlibat dalam isu Hak atas Pangan dan Gizi. salah satu peserta dari Bandung Irvan, menunjukkan bagaimana individu tanpa latar belakang gizi dapat berkontribusi melalui pendekatan edukasi yang adaptif dan kreatif di masyarakat.

Irvan, fasilitator muda F2H yang sehari-hari masih sebagai mahasiswa dan, bergabung dalam program tersebut dengan latar belakang pendidikan multimedia dan bahasa. Ketertarikannya muncul dari keinginan untuk mempelajari isu baru di luar bidang yang selama ini ia tekuni.

Sebelum terjun ke lapangan, Irvan mengikuti pelatihan dasar yang mencakup pengetahuan gizi, konsep Hak atas Pangan dan Gizi, serta teknik fasilitasi. Dalam pelatihan tersebut, ia tergabung dalam tim bersama mahasiswa gizi, yang memungkinkannya mempelajari materi secara langsung sekaligus mempraktikkannya.

“Ikut pelatihan, ikut sana-sini, oke, ngerti-ngerti. Seenggaknya ngerti basic-basicnya dulu. Nanti kita digabungin sama anak gizi dalam satu tim, dari situ bisa curi-curi dikit.”

Pengalaman itu menjadi modal bagi Irvan untuk memahami isu gizi secara lebih komprehensif, sekaligus mempersiapkannya dalam menghadapi dinamika masyarakat di lapangan.

Dalam pelaksanaannya, Irvan seringkali menghadapi tantangan berupa persepsi masyarakat yang menganggap orang muda belum memiliki pengalaman cukup untuk memberikan edukasi, terutama kepada kelompok orang tua atau ibu. Untuk mengatasi hal itu, ia mencoba mengembangkan pendekatan komunikasi yang lebih adaptif.

Irvan memilih gaya komunikasi yang santai dan interaktif, khususnya saat berinteraksi dengan peserta dari kalangan muda. Humor dan diskusi dua arah digunakan Irvan untuk menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif dan tidak menggurui.

Di tiap sesi edukasi, partisipasi peserta dibuka melalui pertanyaan sederhana soal kebiasaan makan sehari-hari, diskusi kelompok kecil, serta permainan ringan. Pendekatan ini dinilai efektif untuk meningkatkan keterlibatan peserta, terutama untuk mereka yang pasif dalam kegiatan.

Irvan menilai, orang muda memiliki peran strategis dalam isu pangan dan gizi, terutama melalui kreativitas, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi dalam menjangkau berbagai kelompok masyarakat.

Partisipasinya dalam program F2H turut mempengaruhi gaya hidup pribadinya, seperti meningkatnya kesadaran terhadap pola makan, konsumsi gula, dan pentingnya asupan sayur.

“Yang paling ngaruh itu sebenarnya tentang gizi. Makan tuh harus ada porsinya. Gula gak boleh sekian, lemak gak boleh sekian. Jadi setidaknya saya tahu batasi makanan kurangi nasi, banyakin sayur.”

Ke depan, Irvan berharap program F2H dapat memperluas jangkauan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sekolah, pemerintah desa, dan fasilitas pelayanan kesehatan, guna meningkatkan dampak program secara berkelanjutan.

Pengalaman irvan menunjukkan bahwa keterlibatan orang muda dalam isu Hak atas Pangan dan Gizi tidak bergantung pada latar belakang pendidikan saja, tetapi juga pada kemauan untuk belajar dan beradaptasi. Program F2H menjadi salah satu contoh upayanya untuk mendorong peran aktif generasi  muda dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pangan sehat dan gizi yang berkecukupan.

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »