Belajar Bilang “Capek” Tanpa Rasa Bersalah: Ceritaku tentang HKSR dan Kesehatan Mental

HKSR dan kesehatan mental

Belakangan ini aku sering kepikiran satu hal sederhana tapi cukup berat, kenapa bilang “capek” rasanya susah banget ya? Seolah-olah harus selalu disembunyikan, dan istirahat harus punya alasan yang kuat. Padahal, rasa capek itu nyata baik secara fisik maupun mental. Karena hal tersebut aku mulai menyadari bahwa topik kesehatan mental dan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di dalamnya caraku memperlakukan diri sendiri. 

Saat ini aku berada di bangku perkuliahan dan menjalani peran sebagai mahasiswa dengan berbagai tuntutan. Hari-hariku diisi dengan kelas, tugas, organisasi, dan target-target yang sering kali datang bersamaan. Di tengah semua itu, aku belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal mengejar nilai atau prestasi, tapi juga tentang bagaimana menjaga diri agar tetap sehat, secara fisik dan mental. 

Aku termasuk orang yang cukup lama percaya kalau capek itu wajar dan harus di tahan. Sebagai mahasiswa, jadwal padat, tugas menumpuk, dan tuntutan untuk selalu produktif terasa seperti hal biasa. Saat itu aku belum menyadari bahwa semua ini berkaitan dengan kesehatan mental dan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR).

Selama ini, aku mengira HKSR hanya soal hal-hal yang sifatnya fisik atau biologis. Padahal, HKSR juga mencakup hak untuk menjaga kesehatan mental dan memahami kondisi tubuh. Termasuk hak untuk beristirahat dan mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. 

Aku pernah berada di fase ketika siklus menstruasiku menjadi tidak teratur karena stres. Awalnya aku mengabaikannya, menganggap itu hal sepele. Tapi, semakin aku memaksakan diri, kondisi mentalku juga semakin turun. Aku menjadi mudah cemas dan kehilangan fokus. Dari situ aku mulai sadar bahwa tubuh dan mental memiliki keterkaitan. Ketika salah satunya diabaikan, maka bisa berdampak untuk semuanya. 

Hal yang membuatku semakin bingung adalah  lingkungan sekitar yang sering kali tidak memberi ruang untuk cerita seperti ini. Ada anggapan bahwa mengeluh soal lelah atau stres berarti kurang kuat. Akhirnya aku memilih diam. Padahal, diam justru membuatku merasa sendirian. Aku butuh waktu untuk memahami bahwa aku punya hak atas tubuhku sendiri, termasuk hak untuk mengenali batas dan mencari bantuan

HKSR dan kesehatan mental

Pelan-pelan aku mulai belajar. Aku mulai perhatian terhadap tubuhku, mencatat perubahan emosi, dan mencoba lebih jujur kepada diri sendiri. Aku juga mulai mencari informasi dari sumber yang bisa dipercaya dan mendengar pengalaman orang lain. Dari situ aku tahu ternyata banyak remaja yang mengalami hal serupa, hanya saja jarang dibicarakan secara terbuka. 

 

Media digital menjadi salah satu ruang yang membantuku. Saat digunakan dengan aman, ruang ini bisa menjadi tempat untuk bercerita. Membaca pengalaman orang lain membuatku sadar bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian dari menghargai hak kesehatan reproduksi. Kita berhak merasa aman dengan tubuh dan pikiran kita sendiri.

Sekarang aku belajar untuk tidak merasa bersalah ketika bilang capek. Aku belajar bahwa istirahat bukan tanda kelemahan, tapi bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Buatku, kesehatan reproduksi yang dekat dengan kehidupanku bukanlah soal teori yang rumit, tetapi tentang keberanian mendengarkan diri sendiri. Pelan-pelan, aku juga mencoba cara yang lebih aman untuk menyampaikan rasa lelah, seperti jujur pada diri sendiri lebih dulu, serta memilih waktu dan orang yang tepat untuk bercerita. Kadang cukup bilang “aku butuh istirahat,” atau “aku sedang kewalahan dan perlu jeda sebentar.” Langkah kecil ini membuatku dapat menjaga batas diri tanpa harus merasa bersalah. Semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa kita semua berhak tumbuh dengan hebat, baik secara fisik maupun mental.

 

Konten ini merupakan karya Health Heroes Facilitators pada program HER Way.

Editor: Tiara Rahma Audina, Affa Shifa Keya, M Arby Maulana, Nafisa, Claudia Tria Permata

 

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »