Pemuda Berupaya: Sinergi UMKM dan Intervensi Gizi Pesisir dalam Mewujudkan Dapur Anti Stunting

Pemuda Berupaya: Sinergi UMKM dan Intervensi Gizi Pesisir dalam Mewujudkan Dapur Anti Stunting

Karimunjawa merupakan pulau di Jawa Tengah yang bahkan mendapat julukan “The Paradise of Java” karena keindahannya. Urusan Pariwisata telah menjadi hal yang dikuasai olah masyarakat setempat. Terlihat dari berbagai resort, cafe, dan tempat wisata yang tersedia, masyarakat Karimunjawa tidak main-main tentang perkembangan wisatanya.

Namun siapa sangka, di tengah surga kecil ini, masih ditemukan puing-puing usaha masyarakatnya dalam meningkatkan kesehatan satu sama lain, salah satunya terkait penanganan stunting pada anak-anak mereka.

Satu-satunya pelayanan yang dapat diakses oleh masyarakat adalah Puskesmas. Hal ini menjadikan mereka dari berbagai sektor bahu-membahu mewujudkan kesehatan yang layak bagi diri mereka sendiri.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang berpotensi menjadi pilar penanganan stunting melalui penyediaan produk pangan bergizi di masyarakat. Terlebih lagi, Karimunjawa memiliki banyak produk pangan berbasis ikan yang tinggi protein sehingga sesuai diberikan untuk mencukupi kebutuhan gizi anak-anak.

Melihat potensi ini, sekelompok mahasiswa sebagai agent of change dari Universitas Gadjah Mada yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Karimunjawa mengupayakan pemberdayaan UMKM melalui pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta pembuatan label Informasi Nilai Gizi (ING). Upaya ini ditujukan untuk mengoptimalkan intervensi gizi pesisir dalam menangani permasalahan stunting.

Pendampingan pembuatan NIB dilakukan pada salah satu usaha catering yang menyediakan berbagai makanan olahan dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) balita dan ibu hamil, seperti dimsum, bakso ikan, dan otak-otak.

UMKM satu ini telah lama bersinergi dengan Puskesmas Karimunjawa untuk menjalankan program tersebut. Pendampingan pembuatan NIB dilaksanakan mulai dari pengumpulan berkas, pendaftaran akun OSS, hingga penyerahan sertifikat NIB pada pemilik usaha. Pembuatan NIB menekankan peran UMKM dari “penyedia makanan” menjadi “mitra kerja profesional” sehingga para balita di Karimunjawa mendapat jaminan asupan PMT dari dapur yang terpantau dan terstandarisasi hukum.

Pendampingan lainnya yang dilaksanakan adalah pembuatan label ING pada UMKM yang berjalan di bidang pembuatan kerupuk ikan. Meski tidak secara langsung menjadi mitra dalam pelayanan kesehatan, UMKM ini berperan dalam menyediakan camilan yang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan protein.

Pendampingan pembuatan label ING dilakukan dengan menimbang berat bersih produk perkemasan dan menghitung nilai gizi persajiannya melalui aplikasi sesuai standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Langkah ini tidak hanya menyulap kemasan kerupuk ikan dari yang semula polos menjadi tampak profesional dan siap menembus pasar yang lebih luas, tetapi juga memberikan kepastian gizi bagi konsumen sekaligus meningkatkan taraf daya saing UMKM lokal secara berkelanjutan.

Cerita ini merupakan bukti nyata bahwa kolaborasi generasi muda dan masyarakat mempu menghadirkan perubahan berkelanjutan di daerah pesisir.

Stunting tidak akan berakhir kecuali roda permasalahan gizi, ekonomi, lingkungan, dan sosial diputus mata rantainya. Oleh karena itu, pemuda harus terus berinovasi dalam menyinergikan ilmu pengetahuan dengan pemberdayaan dan pengabdian agar tercipta masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event Kami

Ruang Kata 4

Artikel Populer

Artikel Terkait

Translate »