Cerita dari Sekolah: Ragam Cara Baru Guru Hadirkan Edukasi Kespro

guru-guru tangerang mengajar kespro - healtheroes.id

Tim RISE Foundation dalam program HER Way berkolaborasi dengan 55 perwakilan guru yang tersebar di empat wilayah yang tugasnya adalah memperkuat dukungan di lingkungan sekolah melalui integrasi atau memasukkan materi edukasi kesehatan reproduksi (kespro) ke dalam pembelajaran di sekolah. Adapun untuk rincian wilayahnya meliputi 16 guru di Kabupaten Banyuwangi, 12 dari Kabupaten Bandung, 15 guru di Kota Tangerang, dan 12 guru yang berada di Kabupaten Sidoarjo.

Selama setahun dan berasal dari beragam latar belakang mata pelajaran, mulai dari Sosiologi, IPA, Kimia, Bahasa Inggris, Sejarah, Informatika, hingga Matematika. Para guru fasilitator ini meramu cara kreatif agar materi kespro bisa tersampaikan tanpa harus membuat jam pelajaran khusus di sekolah.

Dari situ, dapat kita jumpai beberapa cerita menarik bagaimana kreativitas para guru berhasil memberikan pelajaran kespro ke dalam materi sekolah tanpa cara yang kaku sehingga dapat diminati oleh para siswanya.

Dari Angka Menjadi Cerita di Banyuwangi

guru-guru banyuwangi mengajar kespro - healtheroes.id.jpg
guru-guru banyuwangi mengajar kespro – healtheroes.id.jpg

Salah satu cerita menarik dan menantang datang dari guru Matematika di Banyuwangi. Mata pelajaran yang identik dengan hitungan dan angka ini awalnya terasa cukup sulit untuk diselipi materi kespro.

Namun, guru ini akhirnya menemukan pendekatan yang sesuai dengan menggunakan studi kasus tentang bullying (perundungan) dan pernikahan anak sebagai landasan soal. Kasus-kasus nyata ini digunakan sebagai konteks untuk mengajarkan materi statistika kepada para siswa, khususnya dalam menghitung jangkauan data.

Dari soal-soal studi kasus tersebut, para siswa pun bisa lebih sadar akan bahayanya bullying dan ini juga dapat meningkatkan perasaan collective care (kepedulian bersama) antar sesama mereka.

Bermain Ular Tangga Agar Tidak Tabu di Sidoarjo

guru-guru-sidoarjo-mengajar-kespro-healtheroes.id
guru-guru-sidoarjo-mengajar-kespro-healtheroes.id

Lain halnya dengan pendekatan interaktif yang terjadi di Sidoarjo. Salah satu guru memutuskan untuk menggunakan media permainan ular tangga dan diskusi kelompok untuk membuka topik-topik tabu seputar Kespro.

Pada awalnya, ketika pertanyaan seputar mimpi basah dan menstruasi muncul dari permainan tersebut, suasana kelas sempat dipenuhi oleh tawa para siswa yang merasa canggung. Akan tetapi, tawa tersebut justru menjadi cairnya suasana kelas dan berfungsi sebagai pintu masuk yang natural untuk membicarakan isu tabu secara lebih serius dan terbuka. Siswa yang awalnya malu menjadi lebih nyaman membahas materi yang sangat dekat dengan pertumbuhan mereka.

Baca Juga: Perjalanan Sobat Heroes untuk Pangan Lokal dari Depok ke Filipina

Kreativitas Guru yang Terus Berkembang

Selain dua kisa di atas, integrasi kreatif juga masif terjadi di wilayah lain. Di Tangerang misalnya, ada guru Sosiologi mengaitkan Kespro dengan nilai, norma, dan gender. Sementara guru Kimia di Kabupaten Bandung menyampaikan materi Kespro dengan mengaitkannya ke kandungan bahan kimia, produk sehari-hari, produk pembersih/pemutih, makanan, senyawa, dan kesehatan.

Berbagai praktik baik ini membuktikan bahwa pendidikan kespro sangat fleksibel dan tidak selalu terbatas pada sekadar penjelasan anatomi tubuh pubertas, tetapi bisa masuk di segala mata pelajaran yang ada di sekolah. Dari sini kita sadar kalau siapapun bisa berkontribusi dalam mengajarkan materi kespro.

Facebook
X
Threads
LinkedIn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Translate »