Pernahkah Sobat berpikir, apakah informasi tentang makanan sehat sudah benar-benar bisa diakses oleh semua orang?
Pertanyaan itulah yang mendorong Ermina Salju dan Frits Ariyantho Saku, peserta Kompetisi Ide SAPA BUMI (Solusi dari Orang Muda untuk Pangan Inklusif dan Bumi Lestari), untuk membawa gagasan tentang edukasi pangan lokal yang lebih inklusif di Labuan Bajo.
Di sebuah ruang di Rumah Pekerti Golo Koe, Labuan Bajo, 14 orang muda dari komunitas tuli telah berkumpul. Rasa ingin tahu membawa mereka mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam dua pertemuan. Bersama Komunitas Tuli, Ermina dan Frits merancang kegiatan edukasi yang berbicara tentang makanan sehat, serta bagaimana pengetahuan tersebut dapat diakses dengan cara yang sesuai bagi peserta. Bahasa isyarat menjadi salah satu jembatan dalam proses pembelajaran. Materi disampaikan secara visual, dilengkapi praktik langsung, sehingga peserta dapat mengenali, mengolah dan merasakan pangan lokal.
Mengenal Pangan yang Dekat dengan Keseharian
Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya menyimpan beragam pangan lokal yang dapat menjadi bagian dari menu sehari-hari. Latung, sebutan lokal untuk jagung, menjadi salah satu bahan pangan lokal yang dekat dengan keseharian masyarakat dan mudah ditemukan di sekitar mereka. Jagung juga menjadi salah satu komoditas yang ditanam masyarakat di wilayah Manggarai dan dapat diolah menjadi beragam hidangan.

Dalam kegiatan ini peserta diajak untuk mengenali bahan pangan lokal, seperti latung, biji-bijian, hingga labu, lalu mengolahnya menjadi hidangan lokal. Salah satunya diolah menjadi Latung Bombo, yakni bubur jagung tradisional khas Manggarai.
Selain menggunakan jagung sebagai bahan utama, Latung Bombo juga dapat dipadukan dengan berbagai jenis kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang hijau, dan kacang merah. Semua bahan tersebut direbus dan dicampur dengan santan, garam, serta merica hingga menghasilkan hidangan gurih dengan cita rasa yang khas.
Dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, peserta melihat bagaimana pangan lokal dapat diolah menjadi hidangan yang sederhana dan dapat hadir di meja makan sehari-hari.
Sepanjang sesi, peserta terlibat langsung dalam mengenali, mencoba, mengolah, dan menyajikan bahan pangan lokal, sekaligus berinteraksi dengan peserta lain dan fasilitator. Setelah hidangan tersaji, mereka mencicipi olahan tersebut dan memperoleh gambaran tentang cara memanfaatkan pangan lokal dalam menu sehari-hari.
Sepanjang sesi, peserta terlibat langsung dalam mengenali, mencoba, mengolah, dan menyajikan bahan pangan lokal, sekaligus berinteraksi dengan peserta lain dan fasilitator. Setelah hidangan tersaji, mereka mencicipi olahan tersebut dan memperoleh gambaran tentang cara memanfaatkan pangan lokal dalam menu sehari-hari.
Ketika Akses menjadi Bagian dari Edukasi

Metode belajar dalam kegiatan ini disesuaikan dengan kebutuhan komunitas tuli melalui pendekatan visual dan penggunaan bahasa isyarat. Materi juga dilengkapi modul cetak yang dapat dibawa pulang, sehingga peserta dapat kembali mempelajarinya saat ingin mengingat informasi atau mengolah pangan lokal di rumah.
“Semoga kegiatan seperti ini semakin sering diadakan agar banyak masyarakat yang lebih teredukasi tentang pentingnya pangan lokal,” harap Ima salah satu peserta pelatihan.
Pengetahuan tentang pangan lokal yang diperoleh selama sesi dapat menjadi referensi ketika peserta memilih bahan, menyiapkan hidangan, atau mencoba kembali resep yang telah dipelajari bersama.
Baca juga: Ketika Guru Menciptakan Ruang Aman Untuk Edukasi Kespro
Pada akhirnya, akses terhadap edukasi berarti membuka kesempatan agar informasi dapat dijangkau, dipahami, dan digunakan oleh lebih banyak orang. Dari bahasa isyarat hingga meja makan, kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi gizi inklusif dapat dimulai dari hal yang dekat dengan keseharian, mulai dari mengenal pangan yang tersedia di sekitar, mengolahnya, dan membawa pengetahuan tersebut ke rumah.



