Perjalanan pendampingan 55 guru dari Banyuwangi, Bandung, Tangerang, dan Sidoarjo menjadi sebuah titik baik dalam memahami makna pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi (kespro) dalam program HER Way.
Program ini mengajak para guru bukan hanya sekedar mengajarkan tentang anatomi tubuh melainkan juga membangun ruang aman dimana para siswa mampu mengetahui tentang identitas diri, batasan diri, relasi yang sehat, dan ruang kolaborasi bagi orang muda di sela-sela mata pelajaran dengan cara yang kreatif.
Pawa awal saat para guru ingin mempraktekkan apa yang mereka dapatkan dari pelatihan dan modul soal kespro, mereka merasa ragu karena adanya kekhawatiran para siswa akan canggung, malu, dan suasana pun menjadi tidak kondusif, sehingga kalau dipaksakan atau dicoba sekali dua kali dengan hasil yang sama, maka secara tidak langsung siswa-siswa menolak untuk membicarakan hal tersebut. Ini juga menunjukkan kalau pembahasan kespro di dunia pendidikan masih tergolong tabu untuk dibicarakan.
Tetapi karena inisiatif dan keteguhan tekad yang kuat, guru-guru terlebih dahulu mencoba membangun sebuah suasana yang aman dan nyaman di hati para muridnya. Mereka mencari tahu kapan waktu yang tepat untuk membicarakan topik ini, apakah di saat siang, hari, pagi hari, atau saat ingin pulang sekolah.
Lalu benar saja, saat pertama kali guru-guru membuka topik kespro di sela-sela pelajaran terjadi sedikit kecanggungan, tapi juga dilanjut dengan tawa. Para guru tidak terlalu memusingkan hal tersebut dan menganggapnya sebagai pembukaan yang wajar kalau membahas topik ini dan lambat laun para siswa mulai fokus kepada perbincangan kespro.
Selain membuka dengan pemakluman pada kecanggun dan tawa, guru-guru juga mencoba untuk meredakan suasana siswa lain ketika ada yang bertanya agar tidak adanya suasana penghakiman. Sehingga ketika ada siswa yang guyon atau memberikan komentar negatif pada satu kasus, cerita, atau sudut pandang dari siswa lain, guru segera meredupkan hal itu dan membuat siswa yang bertanya atau bercerita tadi tetap percaya diri membagikan sudut padangnya.
Agar bahasan tidak kaku dan lebih terbuka, para guru tidak hanya sekedar memberikan materi dan menghubungkannya dengan lingkup norma, atau identitas dan batasan diri saja, tapi juga mengaitkan mata pelajaran seperti Matematika dengan kasus bullying, Informatika dengan keamanan digital, serta menghubungkan pelajaran Kimia dengan produk sehari-hari, produk pembersih/pemutih, makanan, senyawa, dan kesehatan. Selain itu para guru juga mengajak aktif siswa-siswa untuk ikut memberikan pandangan dan bertanya, serta meminta pendapat siswa lain agar sudut pandang yang didapat menjadi lebih luas.
Baca juga: Cerita dari Sekolah: Ragam Cara Baru Guru Hadirkan Edukasi Kespro
Pada akhirnya tercipta ruang aman, nyaman, dan terbuka bagi para siswa dan guru untuk saling bercerita dan berbagi terkait topik kesehatan reproduksi. Walau sudah berjalan tetapi semua ini tidak cukup hanya dijalankan oleh guru saja, perlu juga kerja sama, kolaborasi, dukungan dari pihak lain seperti Guru Bimbingan dan Konseling (BK), orang tua, sekolah, dan jejaring rujukan lainnya agar tercipta ekosistem penuh dan kuat.



