Refleksi Siswa dalam Kegiatan HHF Goes to School

Program HER Way (Healthy, Educated, and Resilient Wellbeing for Every Adolescent Girl and Young Woman) atau SEKAR (SEhat, Kaya PengetAhuan, dan Resilien) merupakan program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan remaja perempuan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan hidup, serta akses terhadap informasi kesehatan yang tepat. Program ini diimplementasikan oleh RISE Foundation bekerja sama dengan Project HOPE dengan dukungan Kimberly-Clark Corporation.
Sebagai bagian dari implementasi program tersebut, dilaksanakan kegiatan Health Heroes Facilitator (HHF) Goes to School di SMPN 1 Margaasih, Kabupaten Bandung pada hari Rabu, 11 Maret 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai kesehatan reproduksi remaja, termasuk perubahan fisik pada masa pubertas, kesehatan mental, serta pentingnya menjaga diri dalam hubungan sosial.
Pembahasan kesehatan reproduksi remaja, penting untuk dipahami bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan perubahan biologis pada tubuh, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana remaja memahami dirinya sendiri, menghargai tubuhnya, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Setelah sesi materi berlangsung, siswa diminta mengisi post-test reflektif untuk melihat pemahaman mereka mengenai konsep batasan diri setelah mengikuti kegiatan. Jawaban yang diberikan siswa memberikan gambaran bagaimana remaja memaknai batasan diri dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam interaksi dengan teman sebaya dan lingkungan sosial.
Berdasarkan hasil refleksi tersebut, sekitar 60% siswa memahami batasan diri sebagai aturan atau batas yang dibuat seseorang untuk menjaga kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan diri saat berinteraksi dengan orang lain. Dalam jawaban mereka, batasan diri sering digambarkan sebagai garis imajiner atau pedoman yang membantu seseorang mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pergaulan. Pemahaman ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu mengaitkan konsep batasan diri dengan upaya menjaga hubungan sosial yang sehat.
Selain itu, sekitar 20% siswa memandang batasan diri sebagai kemampuan mengontrol perilaku dan emosi, seperti menahan sikap ketika terjadi konflik, menjaga perilaku agar tidak berlebihan saat bercanda dengan teman, serta bersikap lebih bijak dalam pergaulan. Jawaban ini menunjukkan bahwa sebagian siswa mulai memahami batasan diri sebagai bentuk pengendalian diri yang penting dalam membangun interaksi sosial yang sehat.
Sementara itu, sekitar 15% siswa menyoroti pentingnya batasan fisik, seperti menjaga jarak dalam pergaulan atau menghindari sentuhan yang membuat tidak nyaman. Kesadaran ini menunjukkan bahwa siswa mulai memahami bahwa tubuh memiliki ruang pribadi yang perlu dihormati oleh diri sendiri maupun orang lain. Dalam konteks pendidikan kesehatan reproduksi, pemahaman ini sangat penting karena membantu remaja mengenali hak atas kenyamanan dan keamanan tubuh mereka.
Sebagian kecil siswa lainnya, sekitar 5%, mengaitkan batasan diri dengan kemampuan memilih lingkungan pergaulan yang sehat serta membedakan perilaku yang baik dan tidak baik. Pandangan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian siswa, batasan diri juga dipahami sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan menentukan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Dominasi jawaban siswa yang memaknai batasan diri sebagai aturan untuk menjaga kenyamanan dan keamanan diri menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami konsep dasar batasan diri dalam hubungan sosial. Hal ini mengindikasikan bahwa materi yang disampaikan melalui kegiatan HHF Goes to School mampu membantu siswa melihat batasan diri sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain. Selain itu, munculnya jawaban yang menyoroti pengendalian emosi serta batasan fisik menunjukkan bahwa siswa mulai menyadari pentingnya menghargai ruang pribadi dan tubuh masing-masing individu.
Secara keseluruhan, refleksi siswa menunjukkan bahwa konsep batasan diri mulai dipahami dalam beberapa dimensi sekaligus, yaitu sebagai aturan dalam pergaulan, kemampuan mengontrol diri, serta cara menjaga kenyamanan fisik dan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai batasan diri dalam kegiatan HHF Goes to School tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga mulai dihubungkan dengan pengalaman sosial yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan HHF Goes to School, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai perubahan tubuh pada masa pubertas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk merefleksikan bagaimana mereka dapat menjaga diri dalam interaksi sosial sehari-hari. Proses refleksi ini menjadi bagian penting dalam membantu remaja membangun kesadaran diri, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang lebih sehat dan bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan reproduksi serta kesejahteraan diri mereka.





